Sebuah Upaya Merumuskan Kembali Predikat untuk Jamil Massa

Ipinpunya.jpg

(Ulasan ini ditulis Ipin Gobel. Saya salin ke sini dari status Facebooknya. Foto pendukung tulisan ini juga adalah miliknya. Terima kasih, Pin)

Judul: Pembangkangan di Meja No. 8
Penulis: Jamil Massa
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: 2018
Cetakan: Pertama
Tebal: 275 hlm
ISBN: 978602391542

/1/
Saya hampir tidak pernah bisa memaknai ungkapan “dunia terasa semakin sempit” sampai akhirnya saya mengalami bagaimana rasanya membeli sebuah buku dengan cara bertransaksi langsung dengan penulisnya sendiri. Pengalaman beberapa malam lalu di kantor AJI Gorontalo ini secara pribadi memiliki nilai khusus bagi saya. Bagaimana tidak? Saya adalah seseorang yang menganut kepercayaan bahwa content creator dalam genre apapun, lazimnya selalu berjarak dengan audiensnya; baik itu jarak geografis, lebih-lebih secara emosional. Cara pandang pribadi semacam ini, sekalipun hanya dalam porsi sedikit dan tidak kentara, saya kira turut mengambil peran dalam bagaimana cara kita menilai suatu karya.

Andai Jamil Massa adalah Sabda Armandhio Alif dan ia yang menulis 24 Jam Bersama Gaspar, novel fovorit saya, saya kira saya juga bakal kesulitan untuk memberikan penilaian yang sesuai dengan apa yang saya rasakan. Di satu sisi novel itu bagus, namun sebagian dari diri saya yang lain adalah kenalan Jamil Massa. Bukankah kita kadang diam-diam punya sedikiti rasa iri atau bahkan tidak peduli dengan apa yang dimiliki atau dicapai oleh beberapa orang yang kita kenal? Subjektivitas semacam ini adakalanya mampu menghalangi kita untuk bersikap jujur. Sebaliknya, saya juga khawatir kalau-kalau penilaian saya dipengaruhi pula oleh hubungan kedekatan. Pujian kadangkala diungkapkan bukan karena keindahan, namun karena kita tidak tega mengatakan hal buruk kepada orang yang kita kenal. Baca lebih lanjut

Iklan

Sebelum Botol Keempat

IMG-20180319-WA0000“MULUT bisa berdusta, mata tidak. Dan mata orang yang sedang bercinta adalah mata yang paling tidak bisa berdusta.” Berkatalah Peminum Satu kepada Peminum Dua, di sebuah kafe berpenerangan minim, di pinggiran kota.

Keduanya berencana mabuk malam itu, tapi tidak terlalu berat. Empat botol wiski telah dibeli. Mereka baru membuka botol kedua.

“Bagaimana dengan pemain bokep?” sahut Peminum Dua. “Ekspresi mereka meyakinkan.”

Peminum Satu meneguk segelas kecil wiskinya, mengeluarkan desisan kuat, dan menyodorkan botol kepada Peminum Dua. “Orang biasa mungkin akan tertipu. Seorang terlatih sepertiku tidak. Aku bisa menangkap raut jenuh di antara para pemain film biru. Bergairah iya. Bahagia belum tentu.”

Jika tak sedang mabuk, Peminum Satu adalah seorang penyuluh KB berpengalaman. Ia mengajari orang dewasa cara menggunakan kontrasepsi dan mengajak para remaja menghindari pernikahan dini. Yang tidak diketahui teman minum, yang juga teman dari masa kecilnya itu, adalah ia juga penulis. Di waktu senggangnya, Peminum Satu menulis novel cinta picisan, menggunakan nama pena yang sangat rahasia. Belakangan ini sebetulnya ia sedang ingin melompati genre; menulis puisi atau novel kriminal atau novel politik. Namun, ia belum memutuskannya.

“Sedikit kerutan di ujung mata dan pelipis adalah tanda antusiasme. Kalau aku tak menemukan kerutan-kerutan tersebut di wajah audiensku, aku bisa menyimpulkan mereka mengantuk atau bosan. Aku akan mengalihkan topik, menceritakan anekdot, atau membuat permainan kecil. Ice breaker, istilahnya.” Baca lebih lanjut

Barang Bagus

pexels-photo-730803

Sumber foto: pexels.com

“Pemuka agama juga manusia, bisa salah.”

“Yang paling baik itu kalau dia sadar kalau dia bisa saja melakukan kesalahan. Jangan terus-terusan merasa terzalimi, merasa difitnah.”

“Kalau dia memang difitnah bagaimana?”

“Hadapi. Buktikan kalau dia tidak salah dan Tuhan tidak buta.”

“Ah, ngomong doang memang gampang.”

“He he he. Bung, yang namanya fitnah, gosip atau semacamnya adalah konsekuensi yang harus diterima kalau kau jadi orang terkenal. Jangankan para pemuka agama, para nabi juga sering kena gosip aneh-aneh. Kau pernah tidak, mendengar cerita tentang seorang nabi yang digosipkan punya penyakit kelamin? Yang bergosip bukan musuh-musuhnya, tapi pengikutnya sendiri.”

“Nabi? Penyakit kelamin? Memang ada?” Baca lebih lanjut

Pemandu Antakh Alam Tingkat Pekhtama

JIKA kau termasuk warga negara yang anti pemerintah, aku harus sampaikan ini kepadamu: kau boleh menganggap semua kata-kata mereka sampah dan dusta, membangkanglah selama kau bisa, membencilah selama kau masih bernyawa, tapi patuhilah mereka setidaknya pada satu peraturan, yaitu ketika mereka melarangmu mengetik sambil menyetir. Patuhilah itu kalau kau tak ingin bernasib sama sepertiku.

Sebetulnya yang kualami tidak begitu buruk. Pembukaannya saja yang mengerikan. Pagi itu, sekitar pukul sepuluh, aku mengemudikan Toyota Rush-ku menuju Semanggi. Lalu lintas di tol Cawang tidak begitu padat sehingga aku bisa sedikit mengebut. Kira-kira menjelang KM 1.500, Linda, istriku mengirim pesan Whatsapp, bertanya aku sedang di mana. Aku mungkin bukan suami yang jujur, tapi ketika itu aku tak pelu berbohong, maka aku jawab saja aku sedang menyetir.

Istriku, tanpa kuminta, membalas pesanku dengan mengatakan ia sedang berada di sebuah supermarket, berbelanja bahan makanan untuk arisan keluarga Sabtu nanti. Ia lalu bercerita kalau supermarket itu baru saja memutarkan sebuah lagu yang awalnya ia pikir adalah Pelangi di Matamu milik kelompok Jamrud. Tapi, bukannya suara serak Kristianto sang vokalis, ia malah mendengar suara lain yang begitu stabil, sedikit sengau, meski tak terlalu mengesankan. Liriknya berbahasa Inggris. Baca lebih lanjut

Sebuah Pertanyaan Terhadap Akal

20170823_074403-768x1069.jpg

(Ulasan ini tayang pertama kali di Majalah Sastra Daring basabasi.co, 26 Agustus 2017.Bisa disimak di sini)

Judul: Alkudus

Pengarang: Asef Saeful Anwar

Cetakan: I, April 2017

Tebal: 268 halaman

Penerbit: Basabasi

ISBN: 978-602-61160-0-0

1

Pada mulanya adalah harapan

Kocok tiga butir telur. Tambahkan tiga sendok makan susu. Beri garam sejumput, kaldu bubuk secuil, lada seiprit. Panaskan minyak atau mentega, lalu tumis sedikit bawang putih, bawang bombai, sebiji tomat, sosis yang dipotong tiga, dan daun bawang secukupnya hingga harum, lalu tuang kocokan telur sambil diaduk. Ketika mulai memadat; telur bisa dilipat, digulung, atau dibiarkan bulat. Balik dan sajikan.

Pertama kali membaca sinopsis di sampul belakang Alkudus, saya mengira novel ini punya modus serupa dengan resep masakan di atas. Gantilah omelet dengan agama, maka pembaca akan menemukan tata cara menciptakan agama disertai cerita perjalanannya dalam menyelamatkan manusia dari kegelisahan dan disorientasi.

Tidak mudah memang. Namun andai Ludwig Feuerbach benar, bahwa Tuhan merupakan buah angan-angan manusia, maka agama tentu bisa pula diimajinasikan oleh seorang pengarang; dibuat dalam sebuah rumusan meyakinkan, tapi sama sekali baru, dalam artian, memiliki keterpengaruhan yang tipis, bahkan kalau mungkin, lepas dari agama-agama non-fiksional yang telah mapan dalam peradaban manusia. Pembaca akhirnya bisa menikmati sebuah aliran narasi tentang agama Kaib yang fiktif, tanpa perlu membanding-bandingkannya dengan agama yang memang eksis di dunia nyata; itu harapan saya.

Terdiri dari 24 Bab berisi frasa, kalimat, atau gabungan kalimat yang dinomori layaknya ayat-ayat kitab suci, novel ini terlihat eksentrik. Setiap Bab meminjam bentuk Surat sebagaimana yang biasa kita temukan dalam kitab suci al-Qur’an. Bab dengan ayat paling sedikit adalah Bab I (Ladang dan Biji, 9 ayat), dan yang paling banyak adalah Bab 16 (Drakem, 234 ayat). Redaksionalnya cenderung didaktis dengan sudut pandang orang pertama silih berganti menggunakan kata ganti “Aku” dan “Kami”.

Kembali pada harapan awal di atas, apakah Alkudus memenuhi imajinasi saya tentang munculnya suatu agama yang sama sekali baru? Jawabnya: tidak. Dan agaknya, memang bukan itu misi yang dihela sang novelis, Asef Saeful Anwar, saat menulis buku ini. Baca lebih lanjut

Pelajaran Membanting Sapi

12141889_1642088189382372_1873154182_n

bizzarebeyondbelief.files.wordpress.com

(Terbit pertama kali di laman detik.com, 15 Agustus 2017)

RASA penasaran bisa menyergapmu di mana saja, termasuk di jalan. Paling bikin gregetan jika itu terjadi saat kau mengendarai sepeda motor. Pagi ini misalnya, Akbar bermotor dari rumah menuju kantornya. Lampu merah menghentikannya di belakang seorang lelaki paruh baya berjaket seragam suatu instansi pemerintah. Jaket berwarna hitam dengan aksen biru pada bagian lengan, dan tulisan berwarna biru mencolok di bagian punggung: SETETES MANI SEJUTA HARAPAN.

Akbar, Pegawai Negeri Sipil yang baru dua bulan lalu merayakan ulangtahunnya yang ke-31 itu yakin, jaket yang dikenakan pria di depannya adalah seragam sebuah kantor pemerintah. Desainnya kaku sebagaimana birokrasi di negeri ini. Akbar pun ingat kalau jaket semacam itu biasanya memuat selarik slogan, yang juga kaku. ORANG BIJAK TAAT PAJAK, itu seragam Kantor Pajak. SETETES DARAH MENYELAMATKAN NYAWA, pasti PMI. DUA ANAK LEBIH BAIK, tidak salah lagi, BKKBN. Bersua slogan yang mengandung kata ‘mani’ buat Akbar adalah pengalaman pertama.

Lampu hijau menyala. Akbar menjalankan sepeda motornya dengan laju sedang untuk mempertahankan posisi tetap berada di belakang lelaki berjaket misterius yang menunggangi sepeda motor bebek tua itu. Ia sempat berpikir, kurang tidur mungkin membuat akal dan penglihatannya sedikit kacau. Ia mengamati lebih cermat, tapi kata-kata di depannya tidak berubah sehuruf pun: SETETES MANI SEJUTA HARAPAN. Baca lebih lanjut

Menertawakan Hal-Hal yang tak Patut Ditertawakan (Pengajian Sastra Episode 1)

22045780_10155089506554423_7752901325576234602_n (1)

/1/

Catatan ini merupakan ikhtisar dari diskusi kecil-kecilan Komunitas Peka. Suatu diskusi bertajuk Pengajian Sastra Episode 1 yang pada Kamis (28/9) malam membicarakan cerita pendek karya Yusi Avianto Pareanom berjudul Cara-Cara Mati yang Kurang Aduhai.

Ini adalah agenda dua mingguan Komunitas Peka yang mengundang siapa saja untuk membicarakan karya sastra. Digelar pada minggu kedua dan keempat setiap bulan. Minggu kedua membahas puisi, minggu keempat membahas cerpen. Sedikit informasi, Komunitas Peka (Penyeduh Kata) adalah suatu perkumpulan peminat sastra yang baru terbentuk 23 September 2017 lalu di Gorontalo.

Cara-Cara Mati yang Kurang Aduhai (selanjutnya disebut CMKA) terpublikasikan pertama kali di Koran Tempo pada awal Agustus 2008. Kemudian pada 2011 cerpen tersebut, bersama 17 Cerpen lain milik Yusi, terbit dalam buku kumpulan cerita berjudul Rumah Kopi Singa Tertawa (RKST). Lalu pada awal September lalu, kumpulan cerpen yang sama hadir lagi dengan ilustrasi sampul baru dan dua tambahan cerita, dibarengi peluncuran kumpulan cerpen terbarunya, Muslihat Musang Emas.

21687917_10155077900049423_2072320512746032006_n

Memilih CKMA sebagai tema diskusi sebetulnya lebih karena ingin melawan sebuah pandangan umum yang menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang membosankan. Kami ingin memulai diskusi dua mingguan kami dengan cara yang menyenangkan. Dan satu cara paling dadak untuk mendapatkan perasaan senang ialah dengan tertawa. CMKA dalam pandangan kami adalah suatu cerpen yang bertendensi menggelitik urat tawa pembaca.

Namun yang juga kami yakini adala sebuah karya sastra merupakan sarana berpikir. Wahana untuk merenung. Akan sangat merugi seorang pembaca jika dia membaca karya-karya Yusi hanya untuk mencari kelucuan tanpa merenungi betul-betul hakikat kelucuan yang ditawarkan. Itulah yang kemudian membuat kami mengharuskan diri menyusun pertanyaan-pertanyaan terkait  untuk dicarikan jawabannya dalam pengajian yang kami adakan itu. Baca lebih lanjut