Menanti Rasa Sakit

menanti-rasa-sakit-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Ilustrasi: Pata Areadi (Media Indonesia)

“Bapak balik dulu ke rumah. Ambil perlengkapan ibu, perlengkapan bayi, juga ember untuk menampung ari-ari.”

Aku sedang memikirkan Jakob Nufer serta perbuatan sintingnya beberapa abad silam saat bidan itu menemuiku di ruang tunggu dan menyampaikan arahan di atas. “Rahim ibu tipis, waktunya tidak akan lama lagi,” ia menambahkan.

Aku dan istriku sudah berulang kali mensimulasikan situasi jelang melahirkan, tetapi mengatasi kepanikan bukanlah keahlian yang bisa dipelajari seenteng tata cara menyajikan mi instan. Beberapa hal juga sulit tertebak, misalnya, istriku akan melahirkan di sebuah puskesmas, bukan rumah sakit.

Tidak ada masalah dengan Puskesmas Kampung Baru. Sama sekali tidak ada. Itu adalah sebuah bangunan bersih yang sedap dipandang. Satu ruang bersalin dengan dua ranjang, ruang nifas untuk dua pasien, ruang bidan dengan petugas jaga, dan ruang tunggu yang cukup luas buat para suami mengatasi kegugupan mereka, misalnya dengan mondar mandir, menari perut, senam kayang atau sekadar duduk kalem. Tak ada anak kucing berkeliaran, juga aroma lucu-lucu, selain disinfektan yang menyengat penciuman. Baca lebih lanjut

Menguji Fenomena Gaib (Esai Woody Allen)

-font-b-Funny-b-font-6pcs-lot-Novel-PVC-font-b-Ghost-b-font-FingerTAK perlu disangsikan lagi kalau dunia gaib itu betul-betul ada. Masalahnya adalah, seberapa jauh dia dari pusat kota, dan sampai selarut apa dia buka? Kejadian-kejadian tak terjelaskan  terjadi terus menerus. Seseorang melihat hantu. Orang lain mendengar suara. Orang ketiga akan terbangun dan mendapati dirinya berjalan ke pacuan kuda Preakness. Berapa banyak dari kita yang tak sekali dua merasakan selapis telapak tangan sedingin es menempel di kuduk ketika sedang sendirian di rumah? (bukan saya, syukurlah, tapi ada yang pernah) Apa yang ada di belakang pengalaman-pengalaman tersebut? Atau di depan mereka, sebenarnya? Apakah benar bahwa sejumlah orang dapat meramalkan masa depan dengan jalan berbincang dengan hantu? Dan setelah mati apakah masih mungkin untuk mandi?

Untungnya, pertanyaan-pertanyaan mengenai fenomena gaib tersebut telah dijawab dalam sebuah buku yang akan segera diterbitkan, berjudul: Boo!, oleh Dr. Osgood Mulford Twelge, parapsikologis terkemuka sekaligus Guru Besar bidang ektoplasma di Universitas Columbia. Dr. Twelge telah menghimpun catatan sejarah luar biasa atas berbagai insiden supranatural yang melambari segenap ruang lingkup fenomena gaib, dari transfer pikiran hingga pengalaman aneh dua saudara yang berada di dua bagian bumi yang berbeda, yang ketika salah satunya mandi yang lainnya mendadak bersih tubuhnya. Apa yang dipaparkan berikut selain contoh-contoh kasus Dr. Twelge yang paling berhasil, juga adalah komentarnya sendiri.

Penampakan

PADA 16 Maret 1882, Tuan J.C Dubbs terbangun tengah malam dan melihat adiknya Amos, yang telah meninggal 14 tahun sebelumnya, duduk di atas kaki ranjangnya sambil mengocok-kocok burung sendiri. Dubbs bertanya adiknya sedang apa di situ, dan adiknya menjawab: jangan cemas, dia telah mati dan akan berada di kota itu cuma untuk seminggu. Dubbs bertanya kepada adiknya bagaimana rasanya berada di “dunia lain” dan adiknya menjawab tempat itu tak seperti Cleveland. Dia bilang kepulangannya adalah untuk mengantarkan pesan kepada Dubbs, bahwa kombinasi setelan biru tua dan kaos kaki Argyle adalah sebuah kesalahan besar. Baca lebih lanjut

Di Antara Dua Camus

tumblr_static_tumblr_static_cn8ogg3m2wow8gkok8oskok84_6401.

Memento Mori

Saya duduk di kursi paling depan. Dalam pesawat kecil jenis ATR hal itu berarti saya duduk di kursi dekat jendela darurat. Pesawat berguncang cukup kuat ketika hendak mendarat, garis penanda tepi landasan mendadak terlihat miring, dan akhirnya, setelah berusaha keras, pesawat gagal menyejajarkan diri dengan aras pendaratan yang benar. Ia terangkat kembali.

Saya melirik pramugari yang duduk di kursi geser yang tepat membelakangi kokpit, mengirim pertanyaan serta sinyal kepanikan yang agaknya diekspresikan dengan baik oleh wajah saya. Ia tersenyum seraya menjawab singkat: “Angin.” Baca lebih lanjut

Babi Paling Seksi

658323024cbcebbf509cb62e824195d5

TELAPAK tangan perempuan itu, yang tak sampai semenit lalu masih berada di punggungnya, kini telah berpindah di dadanya. Dalam satu gerakan, perempuan itu mengelus, memijat, dan membuat puntiran lembut yang memicu seismik kecil di tubuh Saldi. Perempuan itu terus mendekapnya, menekankan dadanya di punggung Saldi, dan mengecup kuduk lelaki enam puluh tahunan itu.

“Hentikanlah, geli,” pinta Saldi

“Tidak akan sebelum kau penuhi keinginanku,” desis sang perempuan.

“Yang mana?” Saldi berpikir sejenak. “Kursus mengemudi pesawat?”

“He-eh.”

Perempuan itu makin bersemangat menggelitik Saldi. Dan yang digelitik berjoget patah-patah seperti robot rusak.

“Terus, kalau sudah bisa bawa pesawat, mau apa? Meninggalkanku?”

Saldi dapat mendengar perempuan itu terkikik halus di belakang telinganya. “Tentu saja tidak, bodoh. Kau harus ikut bersamaku.”

“Tapi kau tahu aku takut terbang.” Baca lebih lanjut

Bagaimana Cara Pelesiran dengan Seekor Salmon (Esai Umberto Eco)

umbertoecosalmonMENURUT sejumlah suratkabar, ada dua masalah penting yang melanda dunia modern: invasi komputer, dan kegelisahan berkepanjangan di dunia ketiga. Suratkabar-suratkabar tersebut benar, dan aku tahu itu.

Perjalananku baru-baru ini begitu singkat; sehari di Stockholm dan tiga hari di London. Di Stockholm, memanfaatkan jam bebas, aku membeli salmon asap, satu ekor besar, dengan harga sangat murah. Salmon itu terbungkus plastik, namun aku sudah diberitahu bahwa saat sedang pelesir, sebaiknya aku tetap membiarkan salmon itu dalam keadaan beku. Coba saja.

Asyiknya, di London, penerbitku telah memesankan untukku sebuah hotel mewah, kamar beserta minibar. Namun saat memasuki hotel, aku mendapatkan kesan seolah sedang memasuki kedutaan asing di Peking semasa pemberontakan Boxer.

Seluruh keluarga berkemah di lobi; para pelancong terbungkus selimut tidur di antara koper mereka. Aku bertanya pada petugas hotel, kebanyakan mereka orang India, kecuali sebagian kecil orang Malaya, dan aku diberitahu, baru kemarin, di hotel megah ini, sebuah sistem komputerisasi telah terpasang dan, sebelum semua keruwetan teratasi, sistem tersebut mengalami mogok selama dua jam. Tak tersedia satu pun cara untuk menyatakan mana kamar yang sedang terisi dan mana yang kosong. Aku harus menunggu. Baca lebih lanjut

Itikad Baik (Cerpen Jarek Westermark)

130158d280bd39ab073509aba5ded3b3_people-line-up-for-marathon-people-line-up-clipart_650-453KERONGKONGAN Grub terasa kering seperti neraka. Ia mengerjap. Ketika itu tidak membantu, ia guncangkan kepalanya ke belakang dan ke depan. Akhirnya, ia berhasil mengatasi keanehan ini, kantuk yang mencekik. Sedikit demi sedikit ia mulai menyusun rincian tertentu dari sengkarut yang berkelindan di sekitarnya. Ia sudah mendengar jeritan, ratapan, dan gemertak geligi. Ruang tempat ia berada begitu sempit, sehingga seseorang dapat terus menerus bersenggolan dengannya. Orang-orang bergerombol di semua tempat. Ia memberengut. Dalam kehidupannya, ia tak mampu mengingat bagaimana ceritanya ia bisa berakhir di tempat itu.

“Sial…” gumamnya, spontan. Ruangan, lebih tepatnya lorong, itu dibanjiri kilau lampu neon yang tergantung di langit-langit. Bentuknya perlahan makin stabil dalam penginderaannya.

“Tuan Marvin Grundle?” bertanya seorang perempuan paruh baya, dengan busana modis, muncul entah dari mana, memandang Grub dengan tatapan yang diperjelas oleh suatu kacamata tebal. Ia menggenggam sebuah map abu-abu.

“Apa?”

“Tuan Marvin Grundle? Itu nama Anda kan?” Baca lebih lanjut

Tujuh Cara Bersembunyi di Belakang Anjing (Cerpen Yordanka Beleva)

pug-dog-art-lyn-cook-1323456919

Ilustrasi: Lyn Hamer Cook (https://fineartamerica.com)

 

Perempuan berumur lebih panjang ketimbang lelaki. Perempuan yang memiliki anjing berumur lebih panjang ketimbang yang tidak. Perempuan yang memiliki anjing memiliki cinta. Anjing adalah cinta. Klub Nasional Perempuan Pemilik Anjing. Kalimat-kalimat tersebut adalah kutipan dari beberapa kuisionerku, di bagian tentang motif, dengan pertanyaan pertama adalah “Mengapa Anda memelihara anjing?”

Aku salin, menggarisbawahi respon tentang minat, dan menuliskan kembali bagian kuisioner. Aku baru-baru ini mulai mengikuti kelas psikologi dan tugas penelitian pertamaku bertajuk: “Lelaki di Belakang Anjing.”

Liliana, 36, Ibu Rumah Tangga

Di usia ini saya masih belum memiliki siapa pun dan apa pun. Saya kerap merasa dengki tanpa alasan. Saya benci anak-anak, kucing, dan apa pun yang tatapannya mampu melunakkan hati manusia. Kadang pikiran bahwa saya kurang menerima perhatian dibanding kucing rumahan paling jelek sekalipun membuat saya menangis. Namun menjadi diri sendiri saat menangis rasanya lebih baik bahkan jika dibandingkan dengan menjadi kucing rumahan paling cantik. Jika perempuan berumur seperti saya sudah mulai membandingkan dirinya dengan kucing, maka itu berarti sudah waktunya bagi saya memelihara anjing. Saya memiliki anjing sebagai sekutu melawan kucing. Ya benar, saya tidak hanya melakukan ini dengan alasan yang jelas-jelas untuk menghindari kesendirian. Saya mememelihara seekor anjing jelek bersama saya, bersama kejelekan saya. Anjing itu setia kepada saya dengan cara saya memperlakukannya dan saya pun setia kepadanya, sebab ia tidak cantik. Anjing itu juga memahami saya—ia mengejar anak-anak, kucing-kucing, dan apa pun yang tatapannya mampu melunakkan hati manusia. Saya yakin suatu hari nanti saya akan terbiasa dengannya dan akan melihatnya sebagai anjing paling cantik di muka bumi ini. Baca lebih lanjut