Yang Tak Bisa Membunuh KPK Akan Membuatnya Lebih Kuat

rehost2f20162f92f132fb9d6b121-864d-4f82-949f-a68cca885ccc

Arya Stark (diperankan Maisie Williams) dalam serial Game of Thrones

(Tulisan ini terbit pertama kali di Kolom Detik.com, 19 Juni 2017)

Gadis kecil itu sedang ogah-ogahan berlatih pedang. Seorang kawan, yang juga pengawal ayahnya, baru saja tewas dalam suatu bentrokan melawan keluarga Lannister. Ayahnya sendiri, Eddard Stark, ikut terluka. Keluarga Stark dan Lannister memang sudah tidak akur sejak lama. Dan, gadis kecil itu merisaukan keselamatan ayahnya.

Namun, rusaknya suasana hati seorang murid tidak boleh menjadi alasan guru libur mengajar, begitu pikir Syrio Forel. Guru pedang yang eksentrik itu memaksa Arya Stark, sang cantrik mengangkat pedang-pedangan kayunya. Mereka harus tetap berlatih dalam kondisi apa pun. Syrio menuntut Arya belajar fokus pada pertarungan. Menjaga pikiran tetap dalam keadaan bebas beban saat berhadap-hadapan dengan lawan.

“Jika kau bersama masalahmu ketika pertarungan sedang berlangsung, maka akan ada lebih banyak masalah untukmu,” nasihat Syrio di sela-sela latihan. Baca lebih lanjut

Neruda: Warna Pastel di Tubuh Politik yang Burik

Neruda-Poster/1/

Penyair adalah satu jenis manusia yang rentan jadi senewen. Pemicunya banyak, mulai dari kritik yang kejamnya tak tertahankan, pembaca yang seleranya memuakkan, sampai kurangnya bahan, ide, atau material-material bendawi pendukung kerja-kerja kreatif sang penyair. Ia bisa senewen karena tak lagi punya stok kopi, miras, narkoba, kertas bahkan tinta. Situasi yang disebut terakhir pernah menimpa Pablo Neruda, penyair penerima nobel sastra 1971 asal Chili. Saking runyamnya, sampai-sampai peristiwa itu diabadikan dalam sebuah anekdot.

Konon Neruda kehabisan tinta di sebuah negara asing yang ia tak tahu bagaimana cara mengatakan ‘tinta’ dalam bahasa lokalnya. “Ink! Ink!” pekik Neruda kepada pelayan hotel tempat ia menginap. Namun bahasa Inggris sama sekali tak bisa membantu. Pelayan itu tak paham. Neruda lalu meraih botol tintanya yang telah kosong, menunjukkannya di depan si pelayan dan kembali menyeru dalam bahasa yang sama: “This! This!”

Pelayan yang akhirnya mengerti, kemudian menjawab: “Oh, tinta…”

Sang Penyair melongo. Mungkin berpikir, betapa ini sungguh merepotkan dan sedikit konyol. Cairan pekat berlemak untuk dioleskan di atas bahan cetak, yang tanpanya Neruda mati gaya itu ternyata berbagi kata yang sama, baik dalam bahasa ibunya, Bahasa Spanyol, maupun dalam Bahasa Melayu yang digunakan sang pelayan. Bahasa Spanyol untuk ‘tinta’ adalah…‘tinta’ juga.

Walaupun anekdot di atas tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, Neruda memang tercatat sempat bermukim di Batavia sekitar 1930-1931. Di ibukota negeri jajahan bernama Hindia Belanda itu ia bekerja sebagai konsul yang mengawasi pos dagang Chili untuk sejumlah kota pelabuhan di Asia. Ia bahkan menikahi gadis setempat, sesama anggota klub tenis yang juga karyawati Batavischa Afdelinkbank bernama Maria Antonieta Hagenaar pada Desember 1930. Baca lebih lanjut