Menertawakan Hal-Hal yang tak Patut Ditertawakan (Pengajian Sastra Episode 1)

22045780_10155089506554423_7752901325576234602_n (1)

/1/

Catatan ini merupakan ikhtisar dari diskusi kecil-kecilan Komunitas Peka. Suatu diskusi bertajuk Pengajian Sastra Episode 1 yang pada Kamis (28/9) malam membicarakan cerita pendek karya Yusi Avianto Pareanom berjudul Cara-Cara Mati yang Kurang Aduhai.

Ini adalah agenda dua mingguan Komunitas Peka yang mengundang siapa saja untuk membicarakan karya sastra. Digelar pada minggu kedua dan keempat setiap bulan. Minggu kedua membahas puisi, minggu keempat membahas cerpen. Sedikit informasi, Komunitas Peka (Penyeduh Kata) adalah suatu perkumpulan peminat sastra yang baru terbentuk 23 September 2017 lalu di Gorontalo.

Cara-Cara Mati yang Kurang Aduhai (selanjutnya disebut CMKA) terpublikasikan pertama kali di Koran Tempo pada awal Agustus 2008. Kemudian pada 2011 cerpen tersebut, bersama 17 Cerpen lain milik Yusi, terbit dalam buku kumpulan cerita berjudul Rumah Kopi Singa Tertawa (RKST). Lalu pada awal September lalu, kumpulan cerpen yang sama hadir lagi dengan ilustrasi sampul baru dan dua tambahan cerita, dibarengi peluncuran kumpulan cerpen terbarunya, Muslihat Musang Emas.

21687917_10155077900049423_2072320512746032006_n

Memilih CKMA sebagai tema diskusi sebetulnya lebih karena ingin melawan sebuah pandangan umum yang menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang membosankan. Kami ingin memulai diskusi dua mingguan kami dengan cara yang menyenangkan. Dan satu cara paling dadak untuk mendapatkan perasaan senang ialah dengan tertawa. CMKA dalam pandangan kami adalah suatu cerpen yang bertendensi menggelitik urat tawa pembaca.

Namun yang juga kami yakini adala sebuah karya sastra merupakan sarana berpikir. Wahana untuk merenung. Akan sangat merugi seorang pembaca jika dia membaca karya-karya Yusi hanya untuk mencari kelucuan tanpa merenungi betul-betul hakikat kelucuan yang ditawarkan. Itulah yang kemudian membuat kami mengharuskan diri menyusun pertanyaan-pertanyaan terkait  untuk dicarikan jawabannya dalam pengajian yang kami adakan itu.

Metode pengajian diawali dengan membaca karya yang dibahas secara nyaring dan berantai. Semua peserta diupayakan mendapatkan bagian membaca. Tahap selanjutnya adalah membahas karya dengan mengajukan sejumlah pertanyaan kunci. Atau bisa juga peserta langsung mengajukan masalah apa yang ia temukan dalam teks.

Sekurang-kurangnya ada dua pertanyaan kunci yang telah disiapkan untuk memantik diskusi. Pertama, apa sebetulnya yang membuat kita tertawa dari sebuah komedi, yang dalam kasus ini CMKA? Kedua, mengapa kita tertawa? Dua pertanyaan ini kemudian berkembang dalam diskusi hingga memunculkan pertanyaan ketiga: apakah sesuatu yang kita tertawakan itu patut untuk ditertawakan?

Saya harus mengingatkan pembaca, salah satu keunggulan yang ditawarkan CMKA adalah puntiran alurnya yang lumayan mengejutkan. Percayalah, akan kurang seru jika anda membaca catatan yang akan membocorkan beberapa rahasia cerita ini sebelum membaca CMKA itu sendiri. Silakan baca cerpennya lebih dulu sebelum memutuskan melanjutkan membaca catatan ini. Anda bisa membeli RKST di sejumlah toko buku online, atau bisa juga membacanya di tautan ini. Cara pertama dijamin memberikan keasyikan yang lebih komplet tinimbang cara kedua, sebab selain CMKA, anda akan menemukan belasan cerita lain yang tak kurang gilanya.

/2/

Kami bersyukur karena di tengah majelis hadir dua kawan penggiat komunitas peka yang memiliki latar belakang pelawak. Tepatnya, Vadly dan Ipin, begitu panggilan mereka, adalah orang-orang yang telah mewakafkan diri untuk dunia komedi tunggal.

Hasil pembacaan menggiring mereka pada kesimpulan awal: CMKA ditopang oleh sejumlah premis emas yang lumayan solid. Kalau tak salah, premis emas sendiri adalah pernyataan-pernyataan kuat berisi fakta-fakta kecil yang luput dari amatan sehari-hari. Pernyataan yang membuat pendengar atau pembaca mengangguk-angguk sambil bergumam: “Iya juga ya…”

Vadly tidak menunjuk langsung bagian mana, namun bisa saja yang ia maksudkan adalah yang ini:

MAUT itu rahasia. Tapi, tidak selalu begitu. Beberapa orang tahu bagaimana dan kapan kematiannya akan tiba. Seorang ninja, misalnya, sangat paham bahwa ia hanya bisa mati oleh ninja lain jika tak ingin meninggal dunia karena sebab-sebab alami. Jika sudah bosan bernyawa, ia tinggal cari gara-gara dengan sesamanya yang lebih lihai.

Bisa saja ada banyak contoh lain. Namun kemudian Ipin menimpali kalau CMKA juga sarat akan penggunaan punch-line yang apik.

“Apa aku sekarang harus lebih banyak mengaji atau semacamnya?” tanya Agus Taswin.

“Tidak ada salahnya sih, Mas. Tapi kok seperti ngejar setoran?” ujarku, spontan. Aku lantas merasa sungkan sendiri dengan kata-kataku barusan. Kurang patut.

“Kawin lagi?”

“Masa sengaja mencetak janda?”

Intinya, yang ingin dikatakan dua pelawak kita adalah Yusi memiliki tendensi bergurau yang cukup yahud dalam CMKA. Namun, apa yang sedang dia guraukan? Vadly menunjuk adanya konektor, lagi-lagi terminologi dalam komedi tunggal, yaitu kata kunci yang menguatkan koherensi antar fragmen cerita. Jika disimak beberapa fragmen sebetulnya tidak memiliki kaitan yang kausal, maka diperlukan sebuah kaitan yang asosiatif. Konektor inilah yang menjadi kaitan itu.

Perhatikan beberapa fragmen dibuka Yusi dengan kalimat: “Maut itu rahasia.” Ia kemudian mengikutkan beberapa variasi kalimat keterangan untuk membuka ruang tafsir atas kalimat sebelumnya.

MAUT itu rahasia. Tapi, tidak selalu begitu. (Fragmen 1)

MAUT itu rahasia. Biasanya begitu. (3)

MAUT itu rahasia. Dan biasanya memang begitu.(6)

MAUT itu rahasia. Biasanya begitu. Dan aku seharusnya tahu itu. (8)

Dengan mengulang empat kali soal maut dan sifat rahasianya, kita bisa menyimpulkan bahwa benang jahit dari lembar-lembar cerita dalam CMKA adalah soal maut. Maka bisa pula kita beranggapan bahwa apa yang ingin ditertawakan dalam cerita ini adalah tentang kematian, atau tepatnya, seperti yang dijelaskan dalam judul, tentang sejumlah keadaan yang kurang asyik ketika ajal datang menjemput.

/3/

Memangnya ada kematian yang asyik? Mungkin ya, mungkin tidak. Belum ada satu pun di antara kami yang pernah mati lalu kembali dari kematian, dan belum pernah sekali pun kami mendengar ada orang lain yang mengalami kejadian demikian, sehingga menjadi musykil menjawab pertanyaan semacam itu. Tapi yang jelas kematian bisa terjadi kepada siapa saja. Kematian adalah sebuah peristiwa biasa yang seharusnya bisa dilewati dan dikenang dengan biasa, begitu agaknya pesan yang ditangkap Sopian, anggota lain majelis ini, dari cerpen Yusi.

Sopian memberi bukti berupa akhir cerita yang menyebut kalau narator atau tokoh aku dalam cerita ini tenyata sudah mati. Sopian mengaku baru membaca cerita tersebut dalam diskusi, dan sepanjang pembacaan ia membayangkan narator sebagai seorang manusia segar bugar yang sedang membual. Ada semacam kekagetan yang ia rasakan, lalu pikiran bahwa sebagai pembaca, tak menutup kemungkinan setelah ini dialah yang dijemput malaikat maut.

Namun, jika hubungan manusia dan kematian bisa sama intimnya dengan apa yang digambarkan dalam cerita, maka kita tak seharusnya berduka atau merasa kehilangan. Malah seharusnya kita mengenang kematian itu dengan gembira. Kita bisa tertawa, misalnya, mengingat orang yang sebelum menjalani hukuman suntik mati diolesi dulu dengan cairan antiseptik lengannya biar tidak terkena infeksi. Kita bisa tergelak mengingat orang yang sebelum mati menyebut anak kadal sebagai seruan kekagetan. Kita bisa terbahak mengingat orang yang sebelum mati mengajukan permintaan-permintaan ngawur untuk menutup umur.

Anggapan Sopian ini tidak bisa sepenuhnya diterima oleh Handoko. Mas Koko, begitu biasa kami menyapanya, melihat kematian sebetulnya bukanlah sesuatu yang patut ditertawakan. Kepatutan di sini tidak dalam pengertian yang moralistik, tapi lebih pada tataran yang lebih eksistensialistik. Bau-bau eksistensialisme dalam cerpen ini memang menguar kuat, sehingga sudah betul apabila si aku dalam cerita ini menyebut-nyebut soal paham eksistensialis, meskipun contoh yang dia ajukan lebih dekat ke empirisisme David Hume.

Sebelum cerita ini berlanjut, marilah pertama-tama bersepakat bahwa kau tak akan mengajakku berdebat dengan membawa-bawa paham eksistensialis. Jika, misalnya, aku bilang, “Orang itu mati karena serangan jantung,” tak perlulah kau menukas, “Bagaimana kau tahu serangan jantung yang menyebabkan kematiannya? Yang tepat adalah orang itu mati setelah terkena serangan jantung.”

CMKA adalah tentang manusia-manusia yang tak berdaya di hadapan takdir dan kematian. Juga manusia-manusia yang tak pernah bisa sepenuhnya merdeka dari kungkungan nilai-nilai sosial di sekitarnya. Tokoh seperti Stanley Baker, Jr. dan Clarence Ray Allen harus mati dengan cara yang telah ditentukan negara. Tokoh Ratna Dyah Wulansari harus menanggung bisik-bisik cerca yang diembuskan lewat gosip tetangga dengan bahan bakar mitos berdalihkan ajaran agama. Membayangkan menjadi tokoh Ratna yang segala amal perbuatannya selama hidup dianggap nyaris tiada hanya gara-gara menjelang ajal ia menyebut anak kadal, bukannya merapalkan syahadat atau nama Tuhan, mestinya membuat kita merasa ngeri, bukannya malah tertawa.

Inilah yang kemudian menjadi sasaran kritik cerita, bahwa masyarakat, dengan alasan agama, dapat menjadi hakim yang amat kejam. Rasanya kurang adil, jika seseorang yang telah tiada masih saja menjadi sasaran gosip hanya karena ia mengucapkan kata yang kurang elok secara tidak sengaja, sekian detik sebelum mengembuskan napas terakhir.

Kejadian serupa mungkin juga akan dialami tokoh Aku, jika saja orang-orang tahu bahwa sebelum meninggal ia masih sempat menonton dan membicarakan film porno Jepang.

/4/

Agaknya Pengajian Sastra Episode 1, Kamis malam itu tak membuahkan satu pun kalimat bulat yang layak disebut kesimpulan. Menyatakan bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak layak ditertawakan agaknya bukanlah sebuah pandangan kukuh. Kami masih menganggap bahwa CMKA adalah sebuah cerita yang kocak, meski diakhiri dengan cara yang menyesakkan.

Hal lain yang menjadi perdebatan adalah soal kehadiran narator. Candra, misalnya, bingung bagaimana seorang narator yang telah mangkat bisa bercerita. Kami kemudian mencoba mengingat sejumlah karya yang menjadikan arwah sebagai narator utama, atau salah satu narator. Karya-karya semisal Pedro Paramo dari Juan Rulfo, My Name is Red dari Orhan Pamuk, dan Dari Puya ke Puya milik Faisal Oddang dapat menjadi contoh-contoh yang baik untuk memperdalam pengetahuan mengenai narasi jenis ini.

Hanya saja memang seperti yang disebutkan sebelumnya, tak ada satu manusia pun yang pernah benar-benar kembali dari kematian, sehingga memang tak ada suatu gambaran yang pasti mengenai apa yang terjadi pada diri seseorang setelah dia meninggal. Mengakali perkara ini, seorang pengarang boleh mengoptimalkan daya imajinasinya. Bisa pula pengarang menyandarkan ceritanya pada ajaran agama atau kepercayaan yang banyak membahas soal kehidupan setelah mati.

Rulfo misalnya mengimajinasikan bahwa manusia yang telah meninggal masih dapat berkeliaran dan berinteraksi, baik dengan sesama arwah maupun dengan mereka yang masih hidup. Pamuk menganggap arwah tidak dapat berbuat apa-apa selain meratapi kematiannya sendiri. Oddang lebih memilih mengambil apa yang diyakini dari sistem kepercayaan Aluk Todolo milik etnis Toraja, yaitu manusia yang telah meninggal belum benar-benar dianggap meninggal sebelum ia diupacarakan. Dia masih bersemayam di ruang tertentu dalam sebuah rumah, tapi tetap tak bisa berbuat apa-apa selain berkeluh kesah pada dirinya sendiri.

Apa pun cara yang dipilih seorang pengarang, logika tetap harus menjadi penopang utama. Logika yang dimaksud dalam hal ini adalah logika cerita, yaitu logika yang mengikuti semesta penceritaan, bukan semesta realitas. Apa yang dilakukan Yusi di bagian akhir CMKA, bisa dikatakan tidak melanggar logika penceritaan. Dia sah saja menyatakan bahwa setelah manusia meninggal, si mayit masih bisa mendengar suara-suara di sekitar dan kemudian mengingat kejadian demi kejadian sebelum itu.

Mungkin saja, tokoh aku sedang menceritakan kisahnya tersebut saat duburnya sedang diusap-usap ujung panas tongkat malaikat Nakir. Bisa jadi juga ia sedang bercerita sembari memandangi ulat dan belatung yang tengah merayapi jasadnya.

/5/

Hal lain yang menjadi sorotan adalah kegemaran Yusi dalam menggunakan trivia dan fakta-fakta unik dalam jalinan ceritanya. Jika kita membaca cerpen-cerpen Yusi yang lain, kecenderungan ini nyaris selalu ada. Saya sendiri menduga ini adalah suatu trik untuk memancing minat pembaca. Manusia, kita tahu, terlahir sebagai makhluk dengan sifat ingin tahu yang besar. Inilah yang membuat manusia berhasil dalam proses evolusi, dan ini pula yang membuat manusia menciptakan berbagai dongeng dan bualan.

Sifat ingin tahu manusia inilah yang dieksploitasi betul oleh Yusi. Risikonya adalah pengarang harus menciptakan karakter orang pertama yang pelahap buku sebagai narator. Atau dia bisa menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Jika pendekatan ini dilakukan secara asal-asalan hasilnya kemungkinan adalah cerita yang tersendat dan narasi yang tidak alamiah.

Yusi nyaris saja tergelincir dalam perkara ini. Beruntung ia masih bisa menempatkan tokoh aku dalam posisi yang aman, meskipun ia sama sekali tak menjelaskan tentang latar belakang tokoh bersangkutan. Apa tepatnya pekerjaannya, apa latar belakang pendidikan, dan apa hobinya tidak dijelaskan dengan rinci.

Kekurang rincian ini agaknya bisa menyelamatkan si tokoh dari kontradiksi perwatakan. Si tokoh aku ini mungkin menggemari teater (ditunjukkan dengan referensinya soal dramawan Yunani), tak terlalu mendalami filsafat (ditunjukkan dengan kekeliruannya dalam mencontohkan apa itu paham eksistensialis), pernah menonton atau membaca tentang ninja, jelas menonton film Hollywood (Paz Vega dan Monica Belluci), dan kemungkinan menghabiskan waktu-waktu senggangnya di kantor dengan berselancar di internet, menjajal situs-situs click bait.

Si Aku bisa menjadi siapa saja, termasuk anda yang sedang membaca catatan ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s