Neruda: Warna Pastel di Tubuh Politik yang Burik

Neruda-Poster/1/

Penyair adalah satu jenis manusia yang rentan jadi senewen. Pemicunya banyak, mulai dari kritik yang kejamnya tak tertahankan, pembaca yang seleranya memuakkan, sampai kurangnya bahan, ide, atau material-material bendawi pendukung kerja-kerja kreatif sang penyair. Ia bisa senewen karena tak lagi punya stok kopi, miras, narkoba, kertas bahkan tinta. Situasi yang disebut terakhir pernah menimpa Pablo Neruda, penyair penerima nobel sastra 1971 asal Chili. Saking runyamnya, sampai-sampai peristiwa itu diabadikan dalam sebuah anekdot.

Konon Neruda kehabisan tinta di sebuah negara asing yang ia tak tahu bagaimana cara mengatakan ‘tinta’ dalam bahasa lokalnya. “Ink! Ink!” pekik Neruda kepada pelayan hotel tempat ia menginap. Namun bahasa Inggris sama sekali tak bisa membantu. Pelayan itu tak paham. Neruda lalu meraih botol tintanya yang telah kosong, menunjukkannya di depan si pelayan dan kembali menyeru dalam bahasa yang sama: “This! This!”

Pelayan yang akhirnya mengerti, kemudian menjawab: “Oh, tinta…”

Sang Penyair melongo. Mungkin berpikir, betapa ini sungguh merepotkan dan sedikit konyol. Cairan pekat berlemak untuk dioleskan di atas bahan cetak, yang tanpanya Neruda mati gaya itu ternyata berbagi kata yang sama, baik dalam bahasa ibunya, Bahasa Spanyol, maupun dalam Bahasa Melayu yang digunakan sang pelayan. Bahasa Spanyol untuk ‘tinta’ adalah…‘tinta’ juga.

Walaupun anekdot di atas tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, Neruda memang tercatat sempat bermukim di Batavia sekitar 1930-1931. Di ibukota negeri jajahan bernama Hindia Belanda itu ia bekerja sebagai konsul yang mengawasi pos dagang Chili untuk sejumlah kota pelabuhan di Asia. Ia bahkan menikahi gadis setempat, sesama anggota klub tenis yang juga karyawati Batavischa Afdelinkbank bernama Maria Antonieta Hagenaar pada Desember 1930. Baca lebih lanjut

Pedro Páramo dan Pintu-Pintu yang Tertutup

19059467_10154790840234423_1144500955945885155_nApa yang sebetulnya terjadi pada diri kita setelah kita mati? Di antara berbagai penjelasan ilmiah dan bermacam-macam pandangan religi di muka bumi ini, Juan Rulfo, penulis berpengaruh Meksiko, sepertinya lebih memilih percaya kalau pada jiwa seseorang yang telah mati akan melekat berbagai macam memori; Memorinya sendiri dan memori-memori asing dari arwah-arwah lain yang memiliki keterkaitan dengan orang itu semasa hidupnya.

Karena itu ketika Juan Preciado, salah satu karakter yang diciptakan Rulfo dalam novelnya yang berjudul “Pedro Páramo”, menyadari dirinya telah mati, pembaca kemudian seolah menemukan banyak narator dalam novel ini. Para narator yang berebutan bicara tanpa memperkenalkan diri. Pembaca harus berpikir keras, siapa yang sedang berkisah di suatu waktu dan tentang apa? Lalu siapa yang menimpali di waktu lain dan juga tentang apa?

Bisa saya katakan, untuk mendapatkan gambaran cerita yang bisa dicerna, novel ini harus dibaca lebih dari satu kali. Dan pada pembacaan kedua saya menyadari kalau tidak ada banyak narator dalam cerita ini. Hanya ada satu, yakni Juan Preciado seorang. Baca lebih lanjut