Tentang Rasa Takut dan Tamasya di Kamar 101

1984

Saya ingin mengajak Anda, para pembaca, tamasya sejenak ke sebuah ruangan. Sebutlah bilik persegi yang cukup lapang, namun dingin dan kelam. Dinding-dindingnya terbuat dari baja, tanpa jendela dan kedap suara. Anda duduk di satu kursi yang nyaris tersandar pada sebidang dinding. Sebuah meja teronggok kurang lebih lima meter jauhnya di hadapan Anda.

Seseorang kemudian masuk melalui satu-satunya pintu di ruangan itu. Ia meletakkan sebuah bungkusan di atas meja. Ketika Anda bertanya, apa isi bungkusan tersebut? Ia menjawab: isinya adalah ketakutan terbesar Anda.

Adegan di atas saya cuplik dari salah satu bagian dalam novel bergenre distopia futuristik berjudul 1984 karya pengarang Inggris, George Orwell (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Landung Simatupang). Kamar 101, begitulah ruangan itu disebut, adalah sebuah tempat penyiksaan bagi para penjahat pikiran: golongan pelaku kriminal yang dianggap paling berbahaya di Negara Oceania. Baca lebih lanjut

Menjelang Badai Pasir

ilustrasi-cerpen-koran-tempo-minggu-12-13-november-2016-karya-munzir-fadly

Ilustrasi Koran Tempo oleh Munzir Fadly

MELIHAT tamu asing itu makan dengan lahap, mau tak mau aku harus mengakui kebenaran kata-kata Sang Bapa: Ketenteraman hati dimulai dengan memberi makan orang lapar. Ini sungguh bukan tabiatku. Bukan kebiasaanku membiarkan orang asing masuk ke rumahku yang mungil ini, lalu menyuguhinya persediaan makanan terbaik yang aku punya.

Aku hanya mengikuti anjuran Sang Bapa untuk tidak menolak tamu. Menurut lelaki tua itu, seorang tamu seringkali akan memberikan berkah yang tidak pernah diduga-duga. Berkah yang bisa berbentuk harta benda, atau kabar gembira, atau setidaknya doa. Menjamu tamu, terutama yang sedang melakukan perjalanan jauh, juga adalah perkara yang bisa menyenangkan Tuhan. Sebuah cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah hamba-Nya yang baik.

Tamu asing itu mengetuk pintu rumahku sore tadi. Tampak jelas ia adalah pengembara, meski aku tak begitu mengerti ia dari mana dan mau ke mana. Ia hanya mengatakan perutnya belum terisi selama seharian, dan cukup itu saja yang perlu kuketahui untuk mempersilakan lelaki muda itu masuk.

Demi Sang Bapa, ini adalah pertama kalinya aku membuka pintu rumahku kepada orang asing. Dan untuk pertama kalinya pula aku mengenyahkan dari pikiranku apa yang selama ini kusebut sebagai rasa iba yang sia-sia.

Baca lebih lanjut