Perajut Jala dan Bayang-bayang

03-a-kurasi-hi-manula-terampil

Foto: Riden Baruadi

Aku adalah bayang-bayang yang menemanimu di beranda. Setiap pagi hingga senja. Bayang-bayang yang menemanimu memperbaiki jala milik para tetangga. Mungkin waktu adalah sehelai selaput tipis, sehingga merajut jala bukan lagi pekerjaan yang sanggup mereka lakukan sendiri. Atau mungkin mereka hanya kasihan melihatmu yang selalu membutuhkan pekerjaan demi menghidupi diri sendiri, seorang anak perempuan yang juga telah menjanda, dan dua orang cucu yang sedang beranjak remaja.

Jika ada yang paling aku cintai pada dirimu, itu adalah kedua matamu. Mata yang masih kuat dan tajam. Mata yang masih sanggup menemukan ujung kayu perajut jala. Mata yang henti-henti mencari apa yang hendak disembunyikan di balik kebungkaman dan kata-kata. Baca lebih lanjut

Kawan Karib Udara

21-b-kurasi-burung-021

Tak kurang dari tiga puluh bulan lalu, kau adalah makhluk mungil ringkih dengan jari-jari sayap yang belum sempurna. Pemangsa kecil dengan pikiran yang terlampau semenjana. Berbagai ide, aturan dan keharusan didesakkan di dalam kepalamu, disurukkan di balik bulu-bulumu yang sebagian berwarna awan, dan sebagian berawarna tembaga.

“Kita adalah bangsa penerbang paling perkasa, penguasa angkasa raya,” begitulah suatu kali indukmu berbisik. Tak tepat betul disebut bisik, melainkan lebih dari itu, seperti berseru. Suatu peringatan yang tak boleh disanggah. Sebuah dogma yang harus kau camkan sungguh-sungguh.

Engkau adalah telur terakhir yang menetas di suatu pagi, tak kurang dari tiga puluh bulan lalu. Di dalam sarang yang terbuatdari jalinan rumput kering.Sarang itu telah riuh oleh celoteh saudara-saudarimu: tiga kantong bulu yang terlontar dari cangkang-cangkang telur yang retak dan robek lebih dulu. Telurmu sendiri bergeming. Sejenak kau dilupakan, sedikit lagi kau direlakan. Baca lebih lanjut

Jembatan Gantung: Kisah yang Terpancung

19-a-kurasi-jembatan-gantung-suwawa-48

Jembatan Suwawa – Riden Baruadi

Dahulu, ketika buaya-buaya adalah alasan para penyeberang berkali-kali menyebut nama Tuhan, ia adalah lelaki yang bahagia. Orang-orang selalu singgah, sekadar mengaso atau menginap atau menidurkan kecemasan dalam diri, yang dibangkitkan rahasia sungai dan rupa-rupa makhluk pengintai. Satu atau dua malam; satu atau dua cangkir kopi; satu atau dua bungkus mi instan; selalu ada yang dihabiskan, selalu ada yang diceritakan. Dan ia adalah lelaki yang tak pernah merasa kesepian—dahulu, sebelum jembatan gantung itu dipancangkan.

Seorang perempuan setia senantiasa menjaga jiwanya, memenuhi segala kebutuhan dan hasrat seorang pecinta yang masih bergelora dalam tubuh tuanya. Mereka sepasang kekasih yang selalu merasa kecukupan di bantaran sungai, di dalam gubuk dengan dua bilik dan jendela yang menguarkan aroma cengkih dan tembakau. Rimbun hutan, sunyi semak, dan desau daun dari puncak Tilongkabila adalah penghibur saat satu di antara mereka tak lagi mampu mengingat sebuah lagu. Tak lagi sanggup menyanyikan apa-apa. Baca lebih lanjut

Secangkir Teh yang Asoy (Esai George Orwell)

george-orwell

Jika Anda mencari bagian ‘teh’ di buku panduan memasak terdekat yang bisa Anda temukan, mungkin bagian tersebut tidak akan disebut; atau kebanyakan dari Anda akan menemukan beberapa deret instruksi yang tidak memberikan arahan bagi sejumlah poin yang justru paling penting.

Ini aneh, bukan hanya karena teh merupakan salah satu penanda peradaban di negeri ini (Inggris), sebagaimana juga di Eire (Kepulauan Irlandia), Australia, dan Selandia Baru, namun juga karena tata laksana pembuatannya tak lepas dari berbagai perdebatan yang keras. Baca lebih lanjut

Ilabulo di Atas Bara

ilabulo_1290

Ilabulo (Sumber: indonesiakaya.com)

HANIDA berkali-kali menyeka keringat di dahi dan dagunya. Api masih menyala di kompor gas. Air rebusan dalam panci telah mendidih. Ia mengecilkan api, mengangkat daging dan hati yang telah direbus dengan potongan daun jeruk, daun salam, sepenggal jahe, dan sejumput garam.

Sunyi. Tak ada tangis bayi. Hanida tersenyum membayangkan anak bungsunya tertidur di buaian. Sementara anak sulungnya telah ia titipkan di rumah mertuanya yang selalu gembira setiap kali dikunjungi sang cucu. Ia amat membutuhkan saat-saat seperti ini. Saat-saat di mana ia bisa berkonsentrasi tanpa disela tangis anak-anaknya. Ia tersenyum membayangkan akan seperti apa ilabulo yang sedang dibuatnya itu. Ilabulo yang gurih, lembut, dan berminyak. Baca lebih lanjut

Tentang Rasa Takut dan Tamasya di Kamar 101

1984

Saya ingin mengajak Anda, para pembaca, tamasya sejenak ke sebuah ruangan. Sebutlah bilik persegi yang cukup lapang, namun dingin dan kelam. Dinding-dindingnya terbuat dari baja, tanpa jendela dan kedap suara. Anda duduk di satu kursi yang nyaris tersandar pada sebidang dinding. Sebuah meja teronggok kurang lebih lima meter jauhnya di hadapan Anda.

Seseorang kemudian masuk melalui satu-satunya pintu di ruangan itu. Ia meletakkan sebuah bungkusan di atas meja. Ketika Anda bertanya, apa isi bungkusan tersebut? Ia menjawab: isinya adalah ketakutan terbesar Anda.

Adegan di atas saya cuplik dari salah satu bagian dalam novel bergenre distopia futuristik berjudul 1984 karya pengarang Inggris, George Orwell (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Landung Simatupang). Kamar 101, begitulah ruangan itu disebut, adalah sebuah tempat penyiksaan bagi para penjahat pikiran: golongan pelaku kriminal yang dianggap paling berbahaya di Negara Oceania. Baca lebih lanjut

Kalumba

mtgoatb

Sumber: wirelady.com

PENGERAS suara di masjid kampung sudah dimatikan. Salat Isya telah berakhir. Aku bergegas mendekati sebatang pohon mangga kerdil di halaman rumah kosong di bagian Utara kampung kami. Aku celingak-celinguk sebentar, mengawasi keadaan sekitar, sebelum meletakkan ember bekas kaleng cat yang aku bawa. Ember berisi ampas kelapa. Di kampung kami, pada jam-jam seperti ini, yang aku cemaskan bukan makhluk berbentuk manusia.

Ember cat itu kemudian aku balikkan hingga ampas kelapa yang ada di dalamnya tumpah, tersebar tidak beraturan di bagian bawah batang pohon mangga. Menutupi tonjolan akar-akar pohon yang terlihat kurus dicekik kegersangan tanah.

Tak sampai dua menit pekerjaan itu selesai. Aku lalu kembali ke rumah kosong di mana seorang lelaki sudah menungguku. Ia masih dengan posisi sama seperti sebelum aku meninggalkannya, duduk selonjoran di lantai kamar dekat jendela sambil menyeruput segelas kopi instan dan menyandang sepucuk senapan angin.

“Sudah?” ia bertanya setelah meletakkan cangkir kopi. Aku mengangguk, lalu mengambil tempat tak jauh darinya untuk duduk.

Rumah itu masih terlihat baik meski telah tiga bulan tak berpenghuni. Di beberapa sudut dinding terlihat jaring laba-laba. Lantainya berdebu tebal, sehingga mengundang geli di kaki telanjang. Ruangan yang kami tempati adalah bilik persegi di sudut kiri depan rumah tersebut. Agaknya bilik itu adalah kamar tamu. Api kecil di pucuk sebatang lilin menyumbang sedikit cahaya. Ditambah sinar bulan sabit yang menerobos lewat lubang bekas kaca jendela. Melalui lubang yang sama, kami leluasa mengamati pohon mangga kerdil di halaman. Pohon mangga yang sudah diberi umpan.

“Siapa tadi namamu?” Lelaki itu bertanya kepadaku.

“Ismail,” jawabku.

“Baik, Ismail. Sekarang jelaskan lagi hewan apa yang sedang kita incar ini.”

“Tepatnya bukan hewan,” aku mengoreksi, “tapi jin yang mengambil bentuk sebagai kambing. Orang Gorontalo menyebutnya kalumba.” Baca lebih lanjut

Menjelang Badai Pasir

ilustrasi-cerpen-koran-tempo-minggu-12-13-november-2016-karya-munzir-fadly

Ilustrasi Koran Tempo oleh Munzir Fadly

MELIHAT tamu asing itu makan dengan lahap, mau tak mau aku harus mengakui kebenaran kata-kata Sang Bapa: Ketenteraman hati dimulai dengan memberi makan orang lapar. Ini sungguh bukan tabiatku. Bukan kebiasaanku membiarkan orang asing masuk ke rumahku yang mungil ini, lalu menyuguhinya persediaan makanan terbaik yang aku punya.

Aku hanya mengikuti anjuran Sang Bapa untuk tidak menolak tamu. Menurut lelaki tua itu, seorang tamu seringkali akan memberikan berkah yang tidak pernah diduga-duga. Berkah yang bisa berbentuk harta benda, atau kabar gembira, atau setidaknya doa. Menjamu tamu, terutama yang sedang melakukan perjalanan jauh, juga adalah perkara yang bisa menyenangkan Tuhan. Sebuah cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah hamba-Nya yang baik.

Tamu asing itu mengetuk pintu rumahku sore tadi. Tampak jelas ia adalah pengembara, meski aku tak begitu mengerti ia dari mana dan mau ke mana. Ia hanya mengatakan perutnya belum terisi selama seharian, dan cukup itu saja yang perlu kuketahui untuk mempersilakan lelaki muda itu masuk.

Demi Sang Bapa, ini adalah pertama kalinya aku membuka pintu rumahku kepada orang asing. Dan untuk pertama kalinya pula aku mengenyahkan dari pikiranku apa yang selama ini kusebut sebagai rasa iba yang sia-sia.

Baca lebih lanjut