Tujuh Cara Bersembunyi di Belakang Anjing (Cerpen Yordanka Beleva)

pug-dog-art-lyn-cook-1323456919

Ilustrasi: Lyn Hamer Cook (https://fineartamerica.com)

 

Perempuan berumur lebih panjang ketimbang lelaki. Perempuan yang memiliki anjing berumur lebih panjang ketimbang yang tidak. Perempuan yang memiliki anjing memiliki cinta. Anjing adalah cinta. Klub Nasional Perempuan Pemilik Anjing. Kalimat-kalimat tersebut adalah kutipan dari beberapa kuisionerku, di bagian tentang motif, dengan pertanyaan pertama adalah “Mengapa Anda memelihara anjing?”

Aku salin, menggarisbawahi respon tentang minat, dan menuliskan kembali bagian kuisioner. Aku baru-baru ini mulai mengikuti kelas psikologi dan tugas penelitian pertamaku bertajuk: “Lelaki di Belakang Anjing.”

Liliana, 36, Ibu Rumah Tangga

Di usia ini saya masih belum memiliki siapa pun dan apa pun. Saya kerap merasa dengki tanpa alasan. Saya benci anak-anak, kucing, dan apa pun yang tatapannya mampu melunakkan hati manusia. Kadang pikiran bahwa saya kurang menerima perhatian dibanding kucing rumahan paling jelek sekalipun membuat saya menangis. Namun menjadi diri sendiri saat menangis rasanya lebih baik bahkan jika dibandingkan dengan menjadi kucing rumahan paling cantik. Jika perempuan berumur seperti saya sudah mulai membandingkan dirinya dengan kucing, maka itu berarti sudah waktunya bagi saya memelihara anjing. Saya memiliki anjing sebagai sekutu melawan kucing. Ya benar, saya tidak hanya melakukan ini dengan alasan yang jelas-jelas untuk menghindari kesendirian. Saya mememelihara seekor anjing jelek bersama saya, bersama kejelekan saya. Anjing itu setia kepada saya dengan cara saya memperlakukannya dan saya pun setia kepadanya, sebab ia tidak cantik. Anjing itu juga memahami saya—ia mengejar anak-anak, kucing-kucing, dan apa pun yang tatapannya mampu melunakkan hati manusia. Saya yakin suatu hari nanti saya akan terbiasa dengannya dan akan melihatnya sebagai anjing paling cantik di muka bumi ini. Baca lebih lanjut

Di Bawah Bayang Sang Perancap Agung (Cerpen Alex Popov)

Masturbation-Ayurveda-and-Healing(Cerita: Alek Popov (Bulgaria). Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Christopher Buxton di situs http://www.wordswithoutborders.org. Versi bahasa Inggris, dilengkapi penjelasan cerita dan latar belakang penulis serta penerjemahnya, dapat disimak di sini)

LIMA menit kemudian mendadak Botev mendapatkan kembali penglihatannya—sama mendadaknya dengan ketika ia kehilangannya. Ia tampak ketakutan, seolah ia baru saja ditarik dari sebuah sumur dalam penuh kalajengking dan ular.

Tak seorang pun dalam skuadron yang secara khusus pernah ikut dalam suatu pelatihan medis. Pernah beberapa waktu yang lalu, Extra Nina mengikuti kursus kebidanan. Si Tuli Tanko (Vitan Churov dari sebuah kampung bernama Churov Spring) lulus dari kursus keperawatan dalam bidang pengobatan hewan dan karenanya dialah yang dipercayakan mengelola kotak P3K. Mereka menyebutnya “Tuli” karena ia tak bisa mendengar apa pun melalui telinga kanannya. Ia pernah sukses membersihkan luka Lozan dan membebatnya, tapi dalam situasi Botev ini ia cuma bisa mengangkat bahu. Pemeriksaan pada mata Botev tidak membuahkan hasil—baik Si Tuli Tanko maupun Extra Nina tidak menemukan sesuatu yang janggal atau pun mengkhawatirkan.

“Kamu makan sesuatu dari tanah? Minum sesuatu? Kamu habis jatuh jumpalitan?” mereka mencecarnya seperti dokter betulan. “Pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya? Di keluargamu ada nggak yang buta?”

“Ngg, ngg, nggaaakk!” lenguh Botev.

Hanya untuk memastikan, mereka mencari kunci misteri itu dalam tas punggung Botev. Selain aneka rongsokan lelaki dewasa dan sigaret dalam jumlah banyak, apa yang jatuh dari dasar benda itu adalah secarik lap berwarna putih motif totol-totol dengan pinggiran berenda. Sebetulnya, pernah berwarna putih, benda itu telah mendapatkan semburat kekuningan—Extra Nina mengangkat benda itu dengan dua jari dan memeriksanya dalam ketidakpahaman. Lalu ia mengedarkan pandangan kepada kelompok partisan di sekelilingnya. “Apa ini…kamerad?”

Para pria mengangkat bahu, terlihat tidak ingin menggubris.

“Celana dalamku!” jerit Gabriella.

“Celana dalammu?! Kenapa kau kasih dia?” Baca lebih lanjut