Sebelum Botol Keempat

IMG-20180319-WA0000“MULUT bisa berdusta, mata tidak. Dan mata orang yang sedang bercinta adalah mata yang paling tidak bisa berdusta.” Berkatalah Peminum Satu kepada Peminum Dua, di sebuah kafe berpenerangan minim, di pinggiran kota.

Keduanya berencana mabuk malam itu, tapi tidak terlalu berat. Empat botol wiski telah dibeli. Mereka baru membuka botol kedua.

“Bagaimana dengan pemain bokep?” sahut Peminum Dua. “Ekspresi mereka meyakinkan.”

Peminum Satu meneguk segelas kecil wiskinya, mengeluarkan desisan kuat, dan menyodorkan botol kepada Peminum Dua. “Orang biasa mungkin akan tertipu. Seorang terlatih sepertiku tidak. Aku bisa menangkap raut jenuh di antara para pemain film biru. Bergairah iya. Bahagia belum tentu.”

Jika tak sedang mabuk, Peminum Satu adalah seorang penyuluh KB berpengalaman. Ia mengajari orang dewasa cara menggunakan kontrasepsi dan mengajak para remaja menghindari pernikahan dini. Yang tidak diketahui teman minum, yang juga teman dari masa kecilnya itu, adalah ia juga penulis. Di waktu senggangnya, Peminum Satu menulis novel cinta picisan, menggunakan nama pena yang sangat rahasia. Belakangan ini sebetulnya ia sedang ingin melompati genre; menulis puisi atau novel kriminal atau novel politik. Namun, ia belum memutuskannya.

“Sedikit kerutan di ujung mata dan pelipis adalah tanda antusiasme. Kalau aku tak menemukan kerutan-kerutan tersebut di wajah audiensku, aku bisa menyimpulkan mereka mengantuk atau bosan. Aku akan mengalihkan topik, menceritakan anekdot, atau membuat permainan kecil. Ice breaker, istilahnya.” Baca lebih lanjut

Barang Bagus

pexels-photo-730803

Sumber foto: pexels.com

“Pemuka agama juga manusia, bisa salah.”

“Yang paling baik itu kalau dia sadar kalau dia bisa saja melakukan kesalahan. Jangan terus-terusan merasa terzalimi, merasa difitnah.”

“Kalau dia memang difitnah bagaimana?”

“Hadapi. Buktikan kalau dia tidak salah dan Tuhan tidak buta.”

“Ah, ngomong doang memang gampang.”

“He he he. Bung, yang namanya fitnah, gosip atau semacamnya adalah konsekuensi yang harus diterima kalau kau jadi orang terkenal. Jangankan para pemuka agama, para nabi juga sering kena gosip aneh-aneh. Kau pernah tidak, mendengar cerita tentang seorang nabi yang digosipkan punya penyakit kelamin? Yang bergosip bukan musuh-musuhnya, tapi pengikutnya sendiri.”

“Nabi? Penyakit kelamin? Memang ada?” Baca lebih lanjut

Pemandu Antakh Alam Tingkat Pekhtama

JIKA kau termasuk warga negara yang anti pemerintah, aku harus sampaikan ini kepadamu: kau boleh menganggap semua kata-kata mereka sampah dan dusta, membangkanglah selama kau bisa, membencilah selama kau masih bernyawa, tapi patuhilah mereka setidaknya pada satu peraturan, yaitu ketika mereka melarangmu mengetik sambil menyetir. Patuhilah itu kalau kau tak ingin bernasib sama sepertiku.

Sebetulnya yang kualami tidak begitu buruk. Pembukaannya saja yang mengerikan. Pagi itu, sekitar pukul sepuluh, aku mengemudikan Toyota Rush-ku menuju Semanggi. Lalu lintas di tol Cawang tidak begitu padat sehingga aku bisa sedikit mengebut. Kira-kira menjelang KM 1.500, Linda, istriku mengirim pesan Whatsapp, bertanya aku sedang di mana. Aku mungkin bukan suami yang jujur, tapi ketika itu aku tak pelu berbohong, maka aku jawab saja aku sedang menyetir.

Istriku, tanpa kuminta, membalas pesanku dengan mengatakan ia sedang berada di sebuah supermarket, berbelanja bahan makanan untuk arisan keluarga Sabtu nanti. Ia lalu bercerita kalau supermarket itu baru saja memutarkan sebuah lagu yang awalnya ia pikir adalah Pelangi di Matamu milik kelompok Jamrud. Tapi, bukannya suara serak Kristianto sang vokalis, ia malah mendengar suara lain yang begitu stabil, sedikit sengau, meski tak terlalu mengesankan. Liriknya berbahasa Inggris. Baca lebih lanjut

Di Antara Dua Camus

tumblr_static_tumblr_static_cn8ogg3m2wow8gkok8oskok84_6401.

Memento Mori

Saya duduk di kursi paling depan. Dalam pesawat kecil jenis ATR hal itu berarti saya duduk di kursi dekat jendela darurat. Pesawat berguncang cukup kuat ketika hendak mendarat, garis penanda tepi landasan mendadak terlihat miring, dan akhirnya, setelah berusaha keras, pesawat gagal menyejajarkan diri dengan aras pendaratan yang benar. Ia terangkat kembali.

Saya melirik pramugari yang duduk di kursi geser yang tepat membelakangi kokpit, mengirim pertanyaan serta sinyal kepanikan yang agaknya diekspresikan dengan baik oleh wajah saya. Ia tersenyum seraya menjawab singkat: “Angin.” Baca lebih lanjut

Perajut Jala dan Bayang-bayang

03-a-kurasi-hi-manula-terampil

Foto: Riden Baruadi

Aku adalah bayang-bayang yang menemanimu di beranda. Setiap pagi hingga senja. Bayang-bayang yang menemanimu memperbaiki jala milik para tetangga. Mungkin waktu adalah sehelai selaput tipis, sehingga merajut jala bukan lagi pekerjaan yang sanggup mereka lakukan sendiri. Atau mungkin mereka hanya kasihan melihatmu yang selalu membutuhkan pekerjaan demi menghidupi diri sendiri, seorang anak perempuan yang juga telah menjanda, dan dua orang cucu yang sedang beranjak remaja.

Jika ada yang paling aku cintai pada dirimu, itu adalah kedua matamu. Mata yang masih kuat dan tajam. Mata yang masih sanggup menemukan ujung kayu perajut jala. Mata yang henti-henti mencari apa yang hendak disembunyikan di balik kebungkaman dan kata-kata. Baca lebih lanjut

Kawan Karib Udara

21-b-kurasi-burung-021

Tak kurang dari tiga puluh bulan lalu, kau adalah makhluk mungil ringkih dengan jari-jari sayap yang belum sempurna. Pemangsa kecil dengan pikiran yang terlampau semenjana. Berbagai ide, aturan dan keharusan didesakkan di dalam kepalamu, disurukkan di balik bulu-bulumu yang sebagian berwarna awan, dan sebagian berawarna tembaga.

“Kita adalah bangsa penerbang paling perkasa, penguasa angkasa raya,” begitulah suatu kali indukmu berbisik. Tak tepat betul disebut bisik, melainkan lebih dari itu, seperti berseru. Suatu peringatan yang tak boleh disanggah. Sebuah dogma yang harus kau camkan sungguh-sungguh.

Engkau adalah telur terakhir yang menetas di suatu pagi, tak kurang dari tiga puluh bulan lalu. Di dalam sarang yang terbuatdari jalinan rumput kering.Sarang itu telah riuh oleh celoteh saudara-saudarimu: tiga kantong bulu yang terlontar dari cangkang-cangkang telur yang retak dan robek lebih dulu. Telurmu sendiri bergeming. Sejenak kau dilupakan, sedikit lagi kau direlakan. Baca lebih lanjut

Jembatan Gantung: Kisah yang Terpancung

19-a-kurasi-jembatan-gantung-suwawa-48

Jembatan Suwawa – Riden Baruadi

Dahulu, ketika buaya-buaya adalah alasan para penyeberang berkali-kali menyebut nama Tuhan, ia adalah lelaki yang bahagia. Orang-orang selalu singgah, sekadar mengaso atau menginap atau menidurkan kecemasan dalam diri, yang dibangkitkan rahasia sungai dan rupa-rupa makhluk pengintai. Satu atau dua malam; satu atau dua cangkir kopi; satu atau dua bungkus mi instan; selalu ada yang dihabiskan, selalu ada yang diceritakan. Dan ia adalah lelaki yang tak pernah merasa kesepian—dahulu, sebelum jembatan gantung itu dipancangkan.

Seorang perempuan setia senantiasa menjaga jiwanya, memenuhi segala kebutuhan dan hasrat seorang pecinta yang masih bergelora dalam tubuh tuanya. Mereka sepasang kekasih yang selalu merasa kecukupan di bantaran sungai, di dalam gubuk dengan dua bilik dan jendela yang menguarkan aroma cengkih dan tembakau. Rimbun hutan, sunyi semak, dan desau daun dari puncak Tilongkabila adalah penghibur saat satu di antara mereka tak lagi mampu mengingat sebuah lagu. Tak lagi sanggup menyanyikan apa-apa. Baca lebih lanjut