Pedro Páramo dan Pintu-Pintu yang Tertutup

19059467_10154790840234423_1144500955945885155_nApa yang sebetulnya terjadi pada diri kita setelah kita mati? Di antara berbagai penjelasan ilmiah dan bermacam-macam pandangan religi di muka bumi ini, Juan Rulfo, penulis berpengaruh Meksiko, sepertinya lebih memilih percaya kalau pada jiwa seseorang yang telah mati akan melekat berbagai macam memori; Memorinya sendiri dan memori-memori asing dari arwah-arwah lain yang memiliki keterkaitan dengan orang itu semasa hidupnya.

Karena itu ketika Juan Preciado, salah satu karakter yang diciptakan Rulfo dalam novelnya yang berjudul “Pedro Páramo”, menyadari dirinya telah mati, pembaca kemudian seolah menemukan banyak narator dalam novel ini. Para narator yang berebutan bicara tanpa memperkenalkan diri. Pembaca harus berpikir keras, siapa yang sedang berkisah di suatu waktu dan tentang apa? Lalu siapa yang menimpali di waktu lain dan juga tentang apa?

Bisa saya katakan, untuk mendapatkan gambaran cerita yang bisa dicerna, novel ini harus dibaca lebih dari satu kali. Dan pada pembacaan kedua saya menyadari kalau tidak ada banyak narator dalam cerita ini. Hanya ada satu, yakni Juan Preciado seorang.

Cerita dibuka dengan kedatangan Juan Preciado di sebuah Desa di Selatan Antah Berantah Meksiko bernama Comala. Sebuah Desa yang terasa membara bagi orang hidup, tapi terasa dingin mencekam bagi arwah-arwah yang ditolak surga dan enggan pergi ke neraka. Tak jauh dari desa itu ada lahan peternakan bernama Media Luna yang dahulu dipimpin seorang patron bernama Pedro Páramo. Sang Patron inilah yang menjadi alasan kedatangan Juan Preciado ke tempat itu. Mendiang ibunya, Dolores Preciado, yang mati dalam sunyi akibat sakit paru-paru berkata kalau Pedro Páramo adalah ayahnya.

Sejak awal, memori Dolores sudah terngiang di benak Juan Preciado. Beberapa kali pula ia merasa semacam selaput dingin yang ganjil menyelimuti tubuhnya. Namun pemuda Juan baru menyadari kalau ia bukan lagi manusia hidup tatkala ia akhirnya mendapati diri telah berada di sebuah kompleks pemakaman, tepat di dalam lubang kubur yang sama dengan Dorotea; perempuan setengah gila yang semasa hidup menjadi semacam penyalur gadis-gadis untuk budak seks Pedro Páramo.

Di kompleks pemakaman itu pendengaran Juan Preciado semakin jelas. Atau bisa dikatakan, kesadaran akan eksistensinya sendiri menjadikannya dapat mendengar memori-memori asing itu lebih jelas. Ia kemudian menjadi juru bicara kisah ini dengan jalan memantulkan sejumlah suara memori yang ia tangkap. Kadang-kadang suara siapa yang sedang bicara tak dijelaskan. Seolah ia menjadi penyambung lidah sesama orang yang mati menderita dan dibungkam. Bunyi nyaring penderitaan itulah yang membuat novel ini terkesan ribut. Dan kebungkaman menahun itulah yang membuat narasi-narasi seolah bersilang sengkarut.

Butuh kesabaran hingga memori-memori yang pada awalnya hadir dalam potongan-potongan acak dapat dirunut sebagai sebuah kronik. Jawaban dari pertanyaan tentang apa yang terjadi pada Pedro Páramo dan mengapa Desa Comala berikut peternakan Media Luna diterlantarkan penduduknya sendiri dapat diuraikan dari kronik tersebut.

Penyebab kejatuhan Pedro Páramo, Desa Comala dan peternakan Media Luna bisa dibaca dengan cara berbeda-beda. Jika perspektif sejarah dan sosio politik yang dipakai, maka patron berikut secuil wilayah di Selatan Antah Berantah Meksiko itu musnah karena revolusi bersenjata yang tak habis-habis. Digeramus sampai ke kutu-kutunya oleh peperangan. Dari Perang Cristeros yang diwarnai pertentangan kaum sekularis dengan kaum agama, sampai pemberontakan laskar-laskar liar yang berambisi memerangi pemerintah dan tuan-tuan tanah.

Jika pijakan moralitas agama dan penghakiman alkitabiah yang digunakan, maka kehancuran itu berawal dari kutukan atas tanah Comala dan sekitarnya. Pedro Páramo; yang kerap memandang remeh institusi gereja, hobi main perempuan, dan gemar mengotori tangan dengan darah orang-orang tidak bersalah, adalah biang dosa di mata otoritas agama setempat. Ini juga menjadi penyebab mengapa banyak hantu berseliweran kala malam di Comala.

Para hantu Comala, semasa hidup mereka, sebagian besar adalah manusia-manusia yang berkalang kemelaratan dan penderitaan. Satu-satunya yang membikin mereka betah menjalani hidup hanyalah harapan; ketika mati mereka dapat terbebas dari belenggu kefanaan lalu masuk surga. Namun konflik telah menciptakan kebencian yang sebegitu akutnya hingga mencemari hati para pemuka agama paling welas asih sekalipun. Padri Rentería yang mewakili gereja menolak menerima pengakuan dosa dan pertobatan orang-orang Comala.

Tertutuplah satu pintu bagi para arwah itu, dan satu-satunya pintu yang terbuka adalah neraka. Maka, sebagaimana yang dirutukkan arwah Dorotea kepada arwah Juan Preciado: “Surga yang sebenarnya adalah di sini.” Dan jadilah Comala pusat hiburan malam bagi para arwah gentayangan.

Pembacaan lainnya boleh ditambahkan lagi, andai pembaca masih kurang puas dengan dua pembacaan di atas. Pembaca boleh memilih penyebab lain kiamat Comala yang lebih bernada tragik romantik. Kita boleh menafsirkan bahwa novel Pedro Páramo berkisah tentang berakhirnya kekuasaan seorang despot karena perasaannya ternyata amat rapuh di hadapan cinta yang tak kesampaian. Bagaimana cintanya yang menggebu-gebu kepada Susana San Juan menyebabkan hidup Pedro Páramo, berikut dinastinya berakhir dengan cara tak enak.

Inilah kiranya salah satu contoh terbaik dari apa yang dinamakan genre realisme magis itu. Realisme dan magisme tidak saling meniadakan, justru saling menguatkan. Magisme tidak sekadar menjadi tempelan dari sebuah narasi yang realis. Sebaliknya, alusi-alusi sejarah dan sosial politik pun tidak menjadi bingkai mati sebuah narasi yang dijejali mitologi magis. Semua model pembacaan bisa dipilih, bisa juga disetujui secara bersamaan. Sebab sejak awal, narasi yang dibangun benar-benar diperhitungkan untuk tak saling berkontradiksi.

Pedro Páramo pertama kali terbit tahun 1955 di Mexico oleh penerbit Fondo de Cultura Económica. Buku yang saya miliki ini adalah terjemahan Indonesia dari versi Bahasa Inggris terbitan Grove Press tahun 1994, yang diterjemahkan Lutfi Mardiansyah dan diterbitkan Penerbit Gambang.

Selain novel Pedro Páramo itu sendiri, hal terbaik lain yang dimiliki buku ini adalah ternyata isinya juga menyertakan enam dari belasan cerita pendek yang pernah ditulis Juan Rulfo sepanjang karier kepengarangannya. Favorit saya adalah cerita pendek berjudul “Macario”, cerita tentang anak dengan gangguan mental yang merasa ajaran agama tak memberinya apa-apa selain kengerian. Agama, perang, cinta, kemelaratan dan kengerian; itu adalah lima kata kunci yang akan kerap kita temukan dalam karya-karya Rulfo.

Satu novel, dan satu kumpulan cerpen berisi 15 cerita, Juan Rulfo memang tidak bisa dikategorikan sebagai penulis produktif. Namun dipandang dari segi kualitas dan signifikansi, terutama terhadap kesusatraan Amerika Latin, Rulfo adalah penulis yang telah mencapai banyak hal. Tak kurang Gabriel García Márquez sendiri mengakui, Pedro Páramo memberinya ilham untuk menulis dan menyelesaikan Cien años de soledad (Seratus Tahun Kesunyian), novel yang membawa Marquez memenangi Nobel Sastra 1982, sekaligus melambungkan genre realisme magis ke atas panggung kesusastraan dunia.

Kabarnya buku terbitan Penerbit Gambang ini tersandung masalah hak penerbitan sehingga tak dapat lagi dicetak ulang oleh penerbit yang sama. Saya berharap masalah itu cepat teratasi. Buku ini terlalu penting untuk diabaikan, terutama oleh pembaca karya sastra bermutu.

2 respons untuk ‘Pedro Páramo dan Pintu-Pintu yang Tertutup

    • Jamil Massa berkata:

      Sama-sama. Saya belum baca versi Gramedia. Bisa jadi versi Gramedia lebih mudah dimengerti daripada yang punya Gambang ini. Setahu saya, di situ ada juga pengantar dari Marquez dan Susan Sontag. Itu mungkin bisa membantu pembaca mencerna novel ini lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s