Sudahkah Kau Menampar Dirimu Hari Ini?

shutterstock-294835658_1500016649

© Thunchit Wonghong /Shutterstock

(Terbit pertama kali di kolom Telatah beritagar.id. Temukan tulisan-tulisan menarik lainnya di sana)

“UNTUK apa nyamuk diciptakan? Agar manusia bisa sesekali menampar pipinya sendiri.” Begitulah lelucon yang pertama kali saya dengar bertahun-tahun lalu. Kapan tepatnya, saya lupa. Namun lelucon tersebut kembali terbetik setelah publik media sosial kita dihebohkan dua peristiwa penamparan yang terjadi beberapa waktu lalu.

Peristiwa pertama berlangsung awal Juli ini, menimpa Jennifer Wehantow, seorang petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Sam Ratulangi, Manado. Jennifer yang sedang bertugas ditampar seorang calon penumpang yang menolak melepas jam tangan. Belakangan Joice Warouw, si penumpang meminta maaf atas perbuatannya. Namun sampai tulisan ini dibuat, kasus tersebut masih dalam proses hukum. Dan publik telah terlanjur mengecap si penampar sebagai sejenis orang arogan, karena saat penamparan itu terjadi, ia mengatribusi diri sebagai istri seorang Jenderal polisi. Istri seorang pejabat tinggi.

Peristiwa kedua terjadi hanya berselang tiga hari setelah kejadian pertama. Kali ini di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Seorang dokter militer berinisial AG menampar FSP, petugas Avsec setempat. AG tidak terima dirinya diperiksa manual (body search) oleh FSP. Padahal, prosedur tersebut harus dilakukan sebab sebelumnya lampu indikator walk through metal detector (WTMD) menyala saat sang dokter militer melewati alat tersebut, pertanda ia sedang membawa benda logam, yang dalam penerbangan sipil merupakan material yang harus diawasi secara ketat.

Sejatinya, sebuah tindakan penamparan memiliki dua muatan. Pertama, upaya untuk menimbulkan rasa sakit secara fisik. Kedua, upaya untuk mempermalukan orang lain. Kepala, dalam masyarakat kita, kerap dimaknai bukan hanya sebagai tempat sepasang pipi berada, melainkan juga tempat kehormatan diletakkan. Baca lebih lanjut