Studio dan Galeri

Mata Puisi Hasan Aspahani

BLOG, dinding Facebook, apapun yang sejenis itu, adalah studio bagi penulis. Jika kau penyair, kau pajang puisimu di sana, bahkan kau menulisnya di sana. Ada sajak yang selesai. Ada sajak yang kelak kau perbaiki lagi. Ada sajak yang kau hapus dan kau lupakan, kau anggap tak pernah ada.

Kawan-kawanmu datang ke studiomu. Ada yang memperhatikan apa yang kau pajang, ada yang datang untuk mengajakmu berbincang soal lain, dan tak peduli pada sajakmu. Ada yang memuji, ada yang tak mengerti.

Tapi studio adalah rumahmu. Kau bebas menulis atau tak menulis apa saja. Di rumahmu tak ada orang lain yang mengatur bagaimana kau harus menata apa yang kau pajang. Tak ada kurasi, tak ada seleksi. Di studiomu kau membuka diri, membiarkan tetamu melihat prosesmu menulis.

Tapi studio bukan galeri. Galeri bukan studio. Di galeri kita harus datang dengan satu konsep yang hendak ditawarkan. Kau memilih karya-karyamu yang mendukung konsep itu. Jika bukan…

Lihat pos aslinya 113 kata lagi

Prasangka Kendesoan: dari Oberg sampai Kaesang Pangarep

abendstimmung-1959192_1920

pixabay.com

Ada banyak banyolan rasial dalam buku The Collected Jokes of Slavoj Žižek (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Mati Ketawa Cara Slavoj Žižek oleh penerbit Marjin Kiri). Sebuah buku yang disarikan dan disusun Auden Mortensen dari sejumlah risalah dan ceramah filsuf asal Slovenia, Slavoj Žižek. Salah satu yang saya ingat adalah tentang seorang Yahudi yang bertemu seorang Polandia di sebuah kereta.

Keduanya duduk berhadap-hadapan. Setelah beberapa lama memandangi si Yahudi, si Polandia akhirnya berkata: “Beritahu aku, bagaimana kalian orang Yahudi berhasil mengeruk uang orang-orang sampai ke receh-recehnya dan dengan cara itu menumpuk kekayaan kalian?”

Si Yahudi menjawab: “Oke, akan kuberitahu, tapi tidak gratisan; pertama-tama beri aku uang lima zloty.” Sesudah menerima uang, si Yahudi melanjutkan: “Kau ambil ikan mati; potong kepalanya dan taruh isi perutnya ke dalam segelas air. Lalu sekitar tengah malam, saat bulan purnama, kau harus kubur gelas ini di halaman gereja.”

“Kalau aku lakukan semua itu, aku akan jadi kaya?” potong si Polandia.

“Ini belum semua; tapi kalau kau ingin dengar sisanya, kau harus bayar lima zloty lagi,” jawab si Yahudi.

Si Polandia menyanggupi syarat itu. Namun kemudian si Yahudi bercerita berputar-putar, dan tak lama kemudian memotong ceritanya, lalu meminta uang lima zloty lagi. Begitu seterusnya sampai si Polandia geram. “Bajingan tengik, kau pikir aku tidak tahu maumu? Rahasia itu sama sekali tidak ada, kau cuma mau mengeruk uangku sampai ke receh-recehnya!”

Dan si Yahudi menjawab tenang: “Nah, kau sekarang lihat kan bagaimana kami orang Yahudi…” Baca lebih lanjut

Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi

5806ed5bd1f64d52ce756eaccc7ac637_XL.jpg

(Cerpen ini tayang pertama kali di situs jakartabeat.net. Temukan tulisan-tulisan bagus lainnya di sana)

NYARIS menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun, kita barangkali bisa bersepakat, nyaris menabrak kucing adalah kasus umum yang kurang menyenangkan. Keumuman dan kekurangmenyenangkannya hanya bisa ditandingi oleh sehelai rambut yang kau temukan menyembul dari sela-sela makananmu.

Sementara, benar-benar menabrak kucing adalah peristiwa yang jarang terjadi, yang bukan hanya kurang menyenangkan, tapi juga sangat menakutkan. Ketakutan itu biasanya akan tertanam di benakmu dalam waktu cukup lama. Bayangkan saja, seekor kucing, makhluk bertubuh lentur susah diatur itu, melesat tiba-tiba di depan mobil atau sepeda motormu. Kau mengerem mendadak, setir terguncang sejenak, roda sedikit terlonjak, dan tahu-tahu, kau menemukan kucing itu telah dalam keadaan tak bergerak. Atau lebih parah lagi, kau mendapatinya sebagai daging lumat di bawah kulit berbulu yang tergencet seperti keset busuk.

Saking menakutkannya, kucing mati adalah properti yang sering digunakan para sineas Jepang dalam film-film horor mereka. Mungkin kau akan lebih ketakutan lagi saat tahu, dalam film-film horor Jepang jarang ditemukan tulisan yang berarti: “Tak ada satu pun binatang yang disakiti dalam pembuatan film ini” di bagian kredit akhir, sebagaimana umumnya film yang melibatkan binatang.

Baca lebih lanjut

Yang Tak Bisa Membunuh KPK Akan Membuatnya Lebih Kuat

rehost2f20162f92f132fb9d6b121-864d-4f82-949f-a68cca885ccc

Arya Stark (diperankan Maisie Williams) dalam serial Game of Thrones

(Tulisan ini terbit pertama kali di Kolom Detik.com, 19 Juni 2017)

Gadis kecil itu sedang ogah-ogahan berlatih pedang. Seorang kawan, yang juga pengawal ayahnya, baru saja tewas dalam suatu bentrokan melawan keluarga Lannister. Ayahnya sendiri, Eddard Stark, ikut terluka. Keluarga Stark dan Lannister memang sudah tidak akur sejak lama. Dan, gadis kecil itu merisaukan keselamatan ayahnya.

Namun, rusaknya suasana hati seorang murid tidak boleh menjadi alasan guru libur mengajar, begitu pikir Syrio Forel. Guru pedang yang eksentrik itu memaksa Arya Stark, sang cantrik mengangkat pedang-pedangan kayunya. Mereka harus tetap berlatih dalam kondisi apa pun. Syrio menuntut Arya belajar fokus pada pertarungan. Menjaga pikiran tetap dalam keadaan bebas beban saat berhadap-hadapan dengan lawan.

“Jika kau bersama masalahmu ketika pertarungan sedang berlangsung, maka akan ada lebih banyak masalah untukmu,” nasihat Syrio di sela-sela latihan. Baca lebih lanjut