Perempuan yang Berlari Pelan di Taman pada Sore Hari

Art-Background-Full-HD-Wallpaper-art-wallpapers-HD-free-wallpapers-backgrounds-images-FHD-4k-download-2014-2015-2016

efatum.com

Pertama kali terbit di Suratkabar Suara NTB (12 Agustus 2017)

KAU sudah mendengar suaranya. Cuma dua atau tiga kalimat pendek, tetapi kau dapat menangkap pantulan kepercayaan diri yang mengagumkan darinya. Perempuan yang kau telepon itu sepertinya telah terlatih menangani pembicaraan dengan orang asing, dalam kondisi tanpa dukungan kode non verbal yang memadai. Ia pun seolah tahu ingatanmu lemah. Atau ia tahu kebanyakan manusia modern memiliki ingatan lemah, terutama dalam menghapalkan nama jalan, nomor rumah, atau nama kompleks perumahan.

Kau sudah mendengar suaranya dan ia akan mengirimimu alamat rumahnya lewat pesan singkat. Untuk itu, kau harus memutus percakapan telepon tersebut.

Beberapa detik kemudian SMS itu masuk. Kau membalasnya, mengatakan kalau paket untuknya akan kau antarkan sekitar pukul lima sore. Kau beri penjelasan tambahan, di jam itu kau biasanya baru pulang kantor.

Ia menjawab, juga dengan SMS, kau boleh datang kapan saja selama kau memberinya kabar terlebih dahulu. Pukul lima sore ia biasanya joging di taman. Akan tetapi semua bisa diatur.

Kau menutup percakapan itu dengan sebuah persetujuan. Kau kantongi kembali telepon genggammu seraya membatin, jadi inilah pembaca pertama buku puisiku; seorang perempuan dengan suara yang kukuh dan dewasa, yang punya kebiasaaan berlari pelan di taman pada sore hari.

Kau coba mengingat-ingat siapa di antara teman-temanmu yang memiliki profil sekaligus kebiasaan semacam itu. Kau berusaha mereka-reka orang seperti apa pembeli pertama buku puisimu. Apakah ia gemuk atau kurus? Gemuk berarti kebiasaan berlari pelan di sore hari belum lama ia jalani. Mungkin ia seseseorang yang mudah risau, setidaknya risau akan bentuk tubuhnya sendiri. Jika kurus, barangkali joging sore adalah sebuah gaya hidup yang sungguh-sungguh ia hayati. Jadi, gemuk atau kurus? Kau ingat suara yang begitu percaya diri itu. Darinya kau menyusun asumsi yang paling kau yakini. Perempuan itu kurus.

Tetapi, apakah orang semacam itu memiliki hasrat membaca empat puluh enam buah puisi dalam bukumu?

Di kantor pemerintah tempat kau bekerja, kebanyakan pegawainya, termasuk dirimu sendiri, memiliki lingkar badan yang amat diragukan aktivitas fisiknya. Kecuali Hendra dari Bagian Umum, seorang duda beranak satu yang mengelola bisnis sampingan sebuah pusat kebugaran. Ia punya otot-otot yang bagus, tapi bukan berlari pelan di taman pada sore hari yang membentuknya. Dan dia bukan penggemar puisi.

Kau kemudian membayangkan seorang perempuan berambut sebahu, rambut bergelombang diikat ke belakang, tengkuk mengilap putih kecokelatan lantaran keringat. Kedua pundaknya mantap, punggung kausnya basah—ada dua berkas basah; yang atas berbentuk oval, sebesar telapak tanganmu, dan yang bawah bermotif lingkaran tak beraturan, satu seperempat kali lebih luas dari berkas basah yang pertama. Kau bayangkan ia berbalik, menghadapmu, memperlihatkan mata kecilnya. Juga hidung bulat yang mirip seekor moluska sedang kelelahan. Dan ternyata ada berkas basah ketiga. Paling kecil di antara semuanya, merembes dari leher kausnya. Berkas-berkas basah itu begitu gelap, sebab kausnya berwarna ungu polos.

Tentu saja, sebelum itu sejumlah titik keringat muncul satu-satu di lehernya. Ia berlari, menyerap unsur-unsur paling murni dari kehangatan matahari dan bumi, lalu titik-titik bening itu tersentak dan luruh seperti hujan lelatu dari pancaran kembang api. Akhirnya, kau bayangkan perempuan itu mencangkung di suatu bagian taman, atau duduk selonjoran dengan ujung sepatu lari yang menuding awan-awan, sembari membaca beberapa baris salah satu puisimu.

Percakapan ini alangkah sunyi

sebab kata-kata telah terlanjur kita imani.

Kau seolah menemukan kesedihan di wajahnya. Dan kau tahu mengapa.

***

KAU mengucek-ngucek mata. Seseorang membangunkanmu. Bu Ratna. Berapa lama kau tertidur tadi?

“Undangan untuk peserta dan pemateri sudah selesai?” tanya Bu Ratna. Di kantor ini, perempuan itu meminta orang-orang memanggilnya Ummi.

“Sudah selesai saya print.” Kau mendorong setumpuk dokumen. “Tapi belum lengkap. Lampirannya belum ada.”

“Jadwal acara ya? Ambil dari flashdisk saya saja.”

“Bervirus tidak? Komputer saya ini komputer tua. Sensitif. Suka mati sendiri kalau salah colok flashdisk.”

Bu Ratna berpikir agak lama sebelum akhirnya berkata, “Print dari komputer saya saja ya?”

“Nah, itu lebih baik.”

Bu Ratna lalu mengangguk dan berbalik pergi. Kau melihat sepintas pundak, pinggang, dan panggulnya. Perempuan pertengahan tigapuluhan yang kurus, tapi sepertinya bukan karena joging. Lebih seperti kurus akibat malas makan dan sakit-sakitan.

Terpenjara dalam lingkungan yang stagnan begini, siapa yang tidak akan kehilangan nafsu makan dan sakit-sakitan? Rutinitas, proposal, nota, surat-surat dan laporan yang menumpuk adalah bola meriam berantai yang mencekik dan mengikatmu di belakang meja. Telah dua tahun delapan bulan kau bekerja di tempat itu, tetapi cinta belum datang juga. Hubunganmu dengan pekerjaan mirip betul dengan ikatan gundik dengan majikan. Ia memberimu hidup yang layak, tapi sebagai gantinya kau boleh diperah sampai jadi sepah.

“Menulis puisi membuatku merasa tetap manusia.” Begitulah kau berujar kepada istrimu, di hari ketika ia pergi dari rumah, atau sehari setelah penerbit di Jogjakarta mengabarkan bukumu telah selesai cetak dan siap diedarkan.

“Aku tak melarangmu menulis puisi. Aku cuma membenci puisi-puisi yang kau tulis ketika kau masih bersama mantan-mantan kekasihmu itu,” jawabnya.

“Buku itu bisa terbit karena penerbit suka. Matang secara estetik, bagus secara puitik, dan ada pasarnya. Tidak ada sentimen masa lalu. Aku menulis bukan untuk merayakan kenangan seperti tuduhanmu.”

“Andai perasaanku bisa diyakinkan.” Istrimu terisak.

“Seharusnya bisa. Aku pernah kok bersama seseorang yang tak ambil pusing akan apa yang aku tulis.”

Ia berhenti terisak, lalu menatapmu tajam. Kau menyesali kata-katamu, tapi kau tak melakukan apa-apa, bahkan ketika ia mulai berkemas.

***

BEBERAPA hari lalu seorang kakak angkatan dari kampusmu mengirim pesan di kotak surat Facebook-mu. Ia memesan buku puisimu, edisi bertandatangan, dan memintamu mengantarkannya kepada kenalannya yang kebetulan sedang bermukim di Gorontalo, kotamu. Kau pikir si kenalan adalah perantara, yang kelak akan membawakan buku itu ke kota tempat kakak angkatanmu berada untuk memangkas ongkos kirim. Ternyata si kenalan itu, perempuan yang baru saja kau telepon itu, justru adalah tujuannya. Dan kau baru menyadari itu setelah kakak angkatanmu menghubungimu lagi.

“Jangan lupa tandatangan, ya. Disertai pesan, untuk Marsha, ibu terbaik sedunia.”

Kau iyakan permintaannya seraya membatin, jadi inilah pembaca pertama buku puisiku; seorang ibu terbaik sedunia, dengan suara yang kukuh dan dewasa, yang punya kebiasaaan berlari pelan di taman pada sore hari.

Tidak. Istrimulah ibu terbaik sedunia. Dahulu ia senang naik gunung, juga suka berlari, meski lebih sering bersepeda. Sekarang, satu-satunya olahraga yang rutin ia jalani adalah mengurus anak lelakimu, yang sebulan lagi merayakan ulangtahun pertamanya itu.

Dan ia pernah sangat tergila-gila pada puisi-puisimu.

Kalian memang sering berdebat. Hal-hal kecil dan mudah didamaikan sebetulnya. Misalnya, apakah sapuan minyak telon di batang leher bisa mengobati batuk; apakah nyeri gusi pada anak yang sedang tumbuh gigi bisa dihilangkan dengan sentuhan orang saleh; apakah dosis parasetamol untuk bayi mesti disesuaikan dengan umur atau dengan berat badan; apakah mengenalkan aksara dan angka-angka pada anak pra-sekolah adalah sebentuk ketergesaan yang keji; apakah peradaban lebih membutuhkan bandar udara daripada sawah; lebih membutuhkan hotel bintang lima ketimbang hutan mangrove; apakah kaum homoseksual yang ditolak surga itu juga tidak layak hidup di bumi; apakah agama benar-benar bisa dinista; dan sebagainya.

Bahkan saat menonton film berdua pun kalian berdebat, siapa karakter yang paling memikat. Berbeda denganmu yang menyukai Sherlock Holmes, ia menjadikan karakter kikuk John Watson sebagai favoritnya. Dokter Watson, menurutnya, adalah sosok yang memperlihatkan betapa manusia bisa saja melakukan kesalahan. Tidak. Manusia sering melakukan kesalahan. Dan karena itu, kualitas terbaik yang bisa diharapkan dari seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kesetiaannya. Kecerdasan cuma bisa membentuk, mengeraskan, dan mengawetkan ego. Sementara kesetiaan membuatmu layak mendapatkan dekapan hangat, atau setidaknya simpati dan dukungan yang tulus.

“Ya, kesetiaan. Pada kebenaran. Pada kehidupan. Pada cinta,” bisiknya seraya mengetatkan pelukan di tubuhmu.

***

SEBETULNYA kau telah mengabarinya. Menjelang waktu pulang kantor, pekerjaanmu bertambah banyak. Selepas magrib baru memungkinkan, dan perempuan itu mengerti. Ternyata perkiraanmu meleset. Semua pekerjaan bisa kau selesaikan lebih cepat. Kau ingin memberitahunya hal ini, tapi kau sedang letih mengirim SMS, atau menelepon, atau apa pun.

Namun kau tetap datang juga di taman itu. Duduk bersandar di salah satu bangku. Memandangi banyak orang dan lebih banyak bunga-bunga. Menikmati hangat matahari yang bercampur udara sejuk selepas hujan. Sebuah jalur lari mengelilingi taman itu mengikuti pola sayap kupu-kupu. Namun cuma satu atau dua orang yang berjoging. Selebihnya duduk berduaan dan bergerombol. Pacaran atau sekadar berfoto-foto. Kau sendiri lalu membayangkan perempuan itu.

Ia berlari. Rambut bergelombang yang diikat ke belakang, dan bahunya yang mantap berayun seperti suara biola yang mengalunkan lagu sedih. Bachianas Brasilieras No. 5, dari Heitor Villa-Lobos kedengarannya cocok. Satu berkas basah saja yang kelihatan sebab ia sedang menujumu. Kausnya bukan ungu polos, melainkan putih dengan beberapa garis hitam dan merah; seragam kesebelasan Jerman.

Semakin dekat, ia melambat, lalu berhenti selangkah di hadapanmu. Sembari terengah ia melirik buku puisi bersampul warna persik di pangkuanmu. Ia mengambilnya kemudian duduk di sisimu. Mengingat suaranya yang penuh percaya diri itu, kau menganggap wajar jika ia berperilaku sedemikian akrab.

Ia melepas segel plastik bukumu, lalu membuka entah halaman berapa.

Dan di lengkung pipimu, senja menjadi murni

seperti dosa kecil yang sedang diampuni.

Kau merasakan kesedihan menggumpal di dadamu. Dan kau tahu mengapa. Ia membaca puisi yang penah kau tulis untuknya. Puisi yang tak ada di sana.***

Gorontalo, Februari 2017

3 respons untuk ‘Perempuan yang Berlari Pelan di Taman pada Sore Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s