Menanti Rasa Sakit

menanti-rasa-sakit-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Ilustrasi: Pata Areadi (Media Indonesia)

“Bapak balik dulu ke rumah. Ambil perlengkapan ibu, perlengkapan bayi, juga ember untuk menampung ari-ari.”

Aku sedang memikirkan Jakob Nufer serta perbuatan sintingnya beberapa abad silam saat bidan itu menemuiku di ruang tunggu dan menyampaikan arahan di atas. “Rahim ibu tipis, waktunya tidak akan lama lagi,” ia menambahkan.

Aku dan istriku sudah berulang kali mensimulasikan situasi jelang melahirkan, tetapi mengatasi kepanikan bukanlah keahlian yang bisa dipelajari seenteng tata cara menyajikan mi instan. Beberapa hal juga sulit tertebak, misalnya, istriku akan melahirkan di sebuah puskesmas, bukan rumah sakit.

Tidak ada masalah dengan Puskesmas Kampung Baru. Sama sekali tidak ada. Itu adalah sebuah bangunan bersih yang sedap dipandang. Satu ruang bersalin dengan dua ranjang, ruang nifas untuk dua pasien, ruang bidan dengan petugas jaga, dan ruang tunggu yang cukup luas buat para suami mengatasi kegugupan mereka, misalnya dengan mondar mandir, menari perut, senam kayang atau sekadar duduk kalem. Tak ada anak kucing berkeliaran, juga aroma lucu-lucu, selain disinfektan yang menyengat penciuman. Baca lebih lanjut