Bahaya yang Lekas Jadi Pudar

Dari Kami Agar Meletup Lagi yang Redup, Memijar Lagi yang Hendak Pudar Dedy Tri Riyadi DALAM sajak Tuti Artic, Chairil Anwar menulis “Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu” yang menunjukkan bahwa ego atau ke-aku-an sebagai ambisi, tekad, cita-cita, harapan, visi dari seseorang bisa hilang, lenyap, dalam sekejap. Meredup dan pudar adalah suatu yang […]

via Lokomoteks Edisi 5 / Agustus 2017: …Bahaya yang Lekas Jadi Pudar — LOKOMOTEKS

Pesan-Pesan Subliminal dan Penyair Sebagai Medium (Ulasan Dedy Tri Riyadi)

34317383
Saya bukan bulan
bukan bunga pun
tapi biarkan saya berjalan bersamamu
agar kau tidak sendirian menatap burung-burung,
gunung-gunung, dan awan yang sendirian itu.
Ah, siapa yang sendirian?
Saya punya bayang-bayang.
(Mabuk Bersama Li Bai)
Jamil Massa dalam pengantar pada buku ini menyebut tanggomo dan wungguli,yang merupakan dua dari banyak langgam tradisi lisan di Gorontalo di samping sumber-sumber lain untuk menuliskan puisi-puisi dalam buku berjudul Pemanggil Air ini. Sementara di awal-awal pengantar, Jamil Massa juga menyatakan bahwa ia menyoal aneka macam isu dengan pelbagai hal, termasuk hikayat. Dua hal yang saling berkait ini menunjukkan bahwa yang Jamil Massa lakukan dalam berpuisi adalah berbicara secara tidak langsung pada isu yang dia rasa, lihat, baca, dan sebagainya yang ingin dia ungkap dengan cara menyandingkan, atau menurut istilahnya: meminjam, dengan sesuatu yang ia tahu.
(Simak lebih lengkap ulasan Dedy Tri Riyadi mengenai buku saya Pemanggil Air di sini)

Studio dan Galeri

Mata Puisi Hasan Aspahani

BLOG, dinding Facebook, apapun yang sejenis itu, adalah studio bagi penulis. Jika kau penyair, kau pajang puisimu di sana, bahkan kau menulisnya di sana. Ada sajak yang selesai. Ada sajak yang kelak kau perbaiki lagi. Ada sajak yang kau hapus dan kau lupakan, kau anggap tak pernah ada.

Kawan-kawanmu datang ke studiomu. Ada yang memperhatikan apa yang kau pajang, ada yang datang untuk mengajakmu berbincang soal lain, dan tak peduli pada sajakmu. Ada yang memuji, ada yang tak mengerti.

Tapi studio adalah rumahmu. Kau bebas menulis atau tak menulis apa saja. Di rumahmu tak ada orang lain yang mengatur bagaimana kau harus menata apa yang kau pajang. Tak ada kurasi, tak ada seleksi. Di studiomu kau membuka diri, membiarkan tetamu melihat prosesmu menulis.

Tapi studio bukan galeri. Galeri bukan studio. Di galeri kita harus datang dengan satu konsep yang hendak ditawarkan. Kau memilih karya-karyamu yang mendukung konsep itu. Jika bukan…

Lihat pos aslinya 113 kata lagi