Sebuah Pertanyaan Terhadap Akal

20170823_074403-768x1069.jpg

(Ulasan ini tayang pertama kali di Majalah Sastra Daring basabasi.co, 26 Agustus 2017.Bisa disimak di sini)

Judul: Alkudus

Pengarang: Asef Saeful Anwar

Cetakan: I, April 2017

Tebal: 268 halaman

Penerbit: Basabasi

ISBN: 978-602-61160-0-0

1

Pada mulanya adalah harapan

Kocok tiga butir telur. Tambahkan tiga sendok makan susu. Beri garam sejumput, kaldu bubuk secuil, lada seiprit. Panaskan minyak atau mentega, lalu tumis sedikit bawang putih, bawang bombai, sebiji tomat, sosis yang dipotong tiga, dan daun bawang secukupnya hingga harum, lalu tuang kocokan telur sambil diaduk. Ketika mulai memadat; telur bisa dilipat, digulung, atau dibiarkan bulat. Balik dan sajikan.

Pertama kali membaca sinopsis di sampul belakang Alkudus, saya mengira novel ini punya modus serupa dengan resep masakan di atas. Gantilah omelet dengan agama, maka pembaca akan menemukan tata cara menciptakan agama disertai cerita perjalanannya dalam menyelamatkan manusia dari kegelisahan dan disorientasi.

Tidak mudah memang. Namun andai Ludwig Feuerbach benar, bahwa Tuhan merupakan buah angan-angan manusia, maka agama tentu bisa pula diimajinasikan oleh seorang pengarang; dibuat dalam sebuah rumusan meyakinkan, tapi sama sekali baru, dalam artian, memiliki keterpengaruhan yang tipis, bahkan kalau mungkin, lepas dari agama-agama non-fiksional yang telah mapan dalam peradaban manusia. Pembaca akhirnya bisa menikmati sebuah aliran narasi tentang agama Kaib yang fiktif, tanpa perlu membanding-bandingkannya dengan agama yang memang eksis di dunia nyata; itu harapan saya.

Terdiri dari 24 Bab berisi frasa, kalimat, atau gabungan kalimat yang dinomori layaknya ayat-ayat kitab suci, novel ini terlihat eksentrik. Setiap Bab meminjam bentuk Surat sebagaimana yang biasa kita temukan dalam kitab suci al-Qur’an. Bab dengan ayat paling sedikit adalah Bab I (Ladang dan Biji, 9 ayat), dan yang paling banyak adalah Bab 16 (Drakem, 234 ayat). Redaksionalnya cenderung didaktis dengan sudut pandang orang pertama silih berganti menggunakan kata ganti “Aku” dan “Kami”.

Kembali pada harapan awal di atas, apakah Alkudus memenuhi imajinasi saya tentang munculnya suatu agama yang sama sekali baru? Jawabnya: tidak. Dan agaknya, memang bukan itu misi yang dihela sang novelis, Asef Saeful Anwar, saat menulis buku ini. Baca lebih lanjut

Pedro Páramo dan Pintu-Pintu yang Tertutup

19059467_10154790840234423_1144500955945885155_nApa yang sebetulnya terjadi pada diri kita setelah kita mati? Di antara berbagai penjelasan ilmiah dan bermacam-macam pandangan religi di muka bumi ini, Juan Rulfo, penulis berpengaruh Meksiko, sepertinya lebih memilih percaya kalau pada jiwa seseorang yang telah mati akan melekat berbagai macam memori; Memorinya sendiri dan memori-memori asing dari arwah-arwah lain yang memiliki keterkaitan dengan orang itu semasa hidupnya.

Karena itu ketika Juan Preciado, salah satu karakter yang diciptakan Rulfo dalam novelnya yang berjudul “Pedro Páramo”, menyadari dirinya telah mati, pembaca kemudian seolah menemukan banyak narator dalam novel ini. Para narator yang berebutan bicara tanpa memperkenalkan diri. Pembaca harus berpikir keras, siapa yang sedang berkisah di suatu waktu dan tentang apa? Lalu siapa yang menimpali di waktu lain dan juga tentang apa?

Bisa saya katakan, untuk mendapatkan gambaran cerita yang bisa dicerna, novel ini harus dibaca lebih dari satu kali. Dan pada pembacaan kedua saya menyadari kalau tidak ada banyak narator dalam cerita ini. Hanya ada satu, yakni Juan Preciado seorang. Baca lebih lanjut

Tentang Rasa Takut dan Tamasya di Kamar 101

1984

Saya ingin mengajak Anda, para pembaca, tamasya sejenak ke sebuah ruangan. Sebutlah bilik persegi yang cukup lapang, namun dingin dan kelam. Dinding-dindingnya terbuat dari baja, tanpa jendela dan kedap suara. Anda duduk di satu kursi yang nyaris tersandar pada sebidang dinding. Sebuah meja teronggok kurang lebih lima meter jauhnya di hadapan Anda.

Seseorang kemudian masuk melalui satu-satunya pintu di ruangan itu. Ia meletakkan sebuah bungkusan di atas meja. Ketika Anda bertanya, apa isi bungkusan tersebut? Ia menjawab: isinya adalah ketakutan terbesar Anda.

Adegan di atas saya cuplik dari salah satu bagian dalam novel bergenre distopia futuristik berjudul 1984 karya pengarang Inggris, George Orwell (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Landung Simatupang). Kamar 101, begitulah ruangan itu disebut, adalah sebuah tempat penyiksaan bagi para penjahat pikiran: golongan pelaku kriminal yang dianggap paling berbahaya di Negara Oceania. Baca lebih lanjut