Ilabulo di Atas Bara

ilabulo_1290

Ilabulo (Sumber: indonesiakaya.com)

HANIDA berkali-kali menyeka keringat di dahi dan dagunya. Api masih menyala di kompor gas. Air rebusan dalam panci telah mendidih. Ia mengecilkan api, mengangkat daging dan hati yang telah direbus dengan potongan daun jeruk, daun salam, sepenggal jahe, dan sejumput garam.

Sunyi. Tak ada tangis bayi. Hanida tersenyum membayangkan anak bungsunya tertidur di buaian. Sementara anak sulungnya telah ia titipkan di rumah mertuanya yang selalu gembira setiap kali dikunjungi sang cucu. Ia amat membutuhkan saat-saat seperti ini. Saat-saat di mana ia bisa berkonsentrasi tanpa disela tangis anak-anaknya. Ia tersenyum membayangkan akan seperti apa ilabulo yang sedang dibuatnya itu. Ilabulo yang gurih, lembut, dan berminyak. Baca lebih lanjut

Kalumba

mtgoatb

Sumber: wirelady.com

PENGERAS suara di masjid kampung sudah dimatikan. Salat Isya telah berakhir. Aku bergegas mendekati sebatang pohon mangga kerdil di halaman rumah kosong di bagian Utara kampung kami. Aku celingak-celinguk sebentar, mengawasi keadaan sekitar, sebelum meletakkan ember bekas kaleng cat yang aku bawa. Ember berisi ampas kelapa. Di kampung kami, pada jam-jam seperti ini, yang aku cemaskan bukan makhluk berbentuk manusia.

Ember cat itu kemudian aku balikkan hingga ampas kelapa yang ada di dalamnya tumpah, tersebar tidak beraturan di bagian bawah batang pohon mangga. Menutupi tonjolan akar-akar pohon yang terlihat kurus dicekik kegersangan tanah.

Tak sampai dua menit pekerjaan itu selesai. Aku lalu kembali ke rumah kosong di mana seorang lelaki sudah menungguku. Ia masih dengan posisi sama seperti sebelum aku meninggalkannya, duduk selonjoran di lantai kamar dekat jendela sambil menyeruput segelas kopi instan dan menyandang sepucuk senapan angin.

“Sudah?” ia bertanya setelah meletakkan cangkir kopi. Aku mengangguk, lalu mengambil tempat tak jauh darinya untuk duduk.

Rumah itu masih terlihat baik meski telah tiga bulan tak berpenghuni. Di beberapa sudut dinding terlihat jaring laba-laba. Lantainya berdebu tebal, sehingga mengundang geli di kaki telanjang. Ruangan yang kami tempati adalah bilik persegi di sudut kiri depan rumah tersebut. Agaknya bilik itu adalah kamar tamu. Api kecil di pucuk sebatang lilin menyumbang sedikit cahaya. Ditambah sinar bulan sabit yang menerobos lewat lubang bekas kaca jendela. Melalui lubang yang sama, kami leluasa mengamati pohon mangga kerdil di halaman. Pohon mangga yang sudah diberi umpan.

“Siapa tadi namamu?” Lelaki itu bertanya kepadaku.

“Ismail,” jawabku.

“Baik, Ismail. Sekarang jelaskan lagi hewan apa yang sedang kita incar ini.”

“Tepatnya bukan hewan,” aku mengoreksi, “tapi jin yang mengambil bentuk sebagai kambing. Orang Gorontalo menyebutnya kalumba.” Baca lebih lanjut