Sebelum Botol Keempat

IMG-20180319-WA0000“MULUT bisa berdusta, mata tidak. Dan mata orang yang sedang bercinta adalah mata yang paling tidak bisa berdusta.” Berkatalah Peminum Satu kepada Peminum Dua, di sebuah kafe berpenerangan minim, di pinggiran kota.

Keduanya berencana mabuk malam itu, tapi tidak terlalu berat. Empat botol wiski telah dibeli. Mereka baru membuka botol kedua.

“Bagaimana dengan pemain bokep?” sahut Peminum Dua. “Ekspresi mereka meyakinkan.”

Peminum Satu meneguk segelas kecil wiskinya, mengeluarkan desisan kuat, dan menyodorkan botol kepada Peminum Dua. “Orang biasa mungkin akan tertipu. Seorang terlatih sepertiku tidak. Aku bisa menangkap raut jenuh di antara para pemain film biru. Bergairah iya. Bahagia belum tentu.”

Jika tak sedang mabuk, Peminum Satu adalah seorang penyuluh KB berpengalaman. Ia mengajari orang dewasa cara menggunakan kontrasepsi dan mengajak para remaja menghindari pernikahan dini. Yang tidak diketahui teman minum, yang juga teman dari masa kecilnya itu, adalah ia juga penulis. Di waktu senggangnya, Peminum Satu menulis novel cinta picisan, menggunakan nama pena yang sangat rahasia. Belakangan ini sebetulnya ia sedang ingin melompati genre; menulis puisi atau novel kriminal atau novel politik. Namun, ia belum memutuskannya.

“Sedikit kerutan di ujung mata dan pelipis adalah tanda antusiasme. Kalau aku tak menemukan kerutan-kerutan tersebut di wajah audiensku, aku bisa menyimpulkan mereka mengantuk atau bosan. Aku akan mengalihkan topik, menceritakan anekdot, atau membuat permainan kecil. Ice breaker, istilahnya.” Baca lebih lanjut

Pelajaran Membanting Sapi

12141889_1642088189382372_1873154182_n

bizzarebeyondbelief.files.wordpress.com

(Terbit pertama kali di laman detik.com, 15 Agustus 2017)

RASA penasaran bisa menyergapmu di mana saja, termasuk di jalan. Paling bikin gregetan jika itu terjadi saat kau mengendarai sepeda motor. Pagi ini misalnya, Akbar bermotor dari rumah menuju kantornya. Lampu merah menghentikannya di belakang seorang lelaki paruh baya berjaket seragam suatu instansi pemerintah. Jaket berwarna hitam dengan aksen biru pada bagian lengan, dan tulisan berwarna biru mencolok di bagian punggung: SETETES MANI SEJUTA HARAPAN.

Akbar, Pegawai Negeri Sipil yang baru dua bulan lalu merayakan ulangtahunnya yang ke-31 itu yakin, jaket yang dikenakan pria di depannya adalah seragam sebuah kantor pemerintah. Desainnya kaku sebagaimana birokrasi di negeri ini. Akbar pun ingat kalau jaket semacam itu biasanya memuat selarik slogan, yang juga kaku. ORANG BIJAK TAAT PAJAK, itu seragam Kantor Pajak. SETETES DARAH MENYELAMATKAN NYAWA, pasti PMI. DUA ANAK LEBIH BAIK, tidak salah lagi, BKKBN. Bersua slogan yang mengandung kata ‘mani’ buat Akbar adalah pengalaman pertama.

Lampu hijau menyala. Akbar menjalankan sepeda motornya dengan laju sedang untuk mempertahankan posisi tetap berada di belakang lelaki berjaket misterius yang menunggangi sepeda motor bebek tua itu. Ia sempat berpikir, kurang tidur mungkin membuat akal dan penglihatannya sedikit kacau. Ia mengamati lebih cermat, tapi kata-kata di depannya tidak berubah sehuruf pun: SETETES MANI SEJUTA HARAPAN. Baca lebih lanjut

Perempuan yang Berlari Pelan di Taman pada Sore Hari

Art-Background-Full-HD-Wallpaper-art-wallpapers-HD-free-wallpapers-backgrounds-images-FHD-4k-download-2014-2015-2016

efatum.com

Pertama kali terbit di Suratkabar Suara NTB (12 Agustus 2017)

KAU sudah mendengar suaranya. Cuma dua atau tiga kalimat pendek, tetapi kau dapat menangkap pantulan kepercayaan diri yang mengagumkan darinya. Perempuan yang kau telepon itu sepertinya telah terlatih menangani pembicaraan dengan orang asing, dalam kondisi tanpa dukungan kode non verbal yang memadai. Ia pun seolah tahu ingatanmu lemah. Atau ia tahu kebanyakan manusia modern memiliki ingatan lemah, terutama dalam menghapalkan nama jalan, nomor rumah, atau nama kompleks perumahan.

Kau sudah mendengar suaranya dan ia akan mengirimimu alamat rumahnya lewat pesan singkat. Untuk itu, kau harus memutus percakapan telepon tersebut.

Beberapa detik kemudian SMS itu masuk. Kau membalasnya, mengatakan kalau paket untuknya akan kau antarkan sekitar pukul lima sore. Kau beri penjelasan tambahan, di jam itu kau biasanya baru pulang kantor.

Ia menjawab, juga dengan SMS, kau boleh datang kapan saja selama kau memberinya kabar terlebih dahulu. Pukul lima sore ia biasanya joging di taman. Akan tetapi semua bisa diatur. Baca lebih lanjut

Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi

5806ed5bd1f64d52ce756eaccc7ac637_XL.jpg

(Cerpen ini tayang pertama kali di situs jakartabeat.net. Temukan tulisan-tulisan bagus lainnya di sana)

NYARIS menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun, kita barangkali bisa bersepakat, nyaris menabrak kucing adalah kasus umum yang kurang menyenangkan. Keumuman dan kekurangmenyenangkannya hanya bisa ditandingi oleh sehelai rambut yang kau temukan menyembul dari sela-sela makananmu.

Sementara, benar-benar menabrak kucing adalah peristiwa yang jarang terjadi, yang bukan hanya kurang menyenangkan, tapi juga sangat menakutkan. Ketakutan itu biasanya akan tertanam di benakmu dalam waktu cukup lama. Bayangkan saja, seekor kucing, makhluk bertubuh lentur susah diatur itu, melesat tiba-tiba di depan mobil atau sepeda motormu. Kau mengerem mendadak, setir terguncang sejenak, roda sedikit terlonjak, dan tahu-tahu, kau menemukan kucing itu telah dalam keadaan tak bergerak. Atau lebih parah lagi, kau mendapatinya sebagai daging lumat di bawah kulit berbulu yang tergencet seperti keset busuk.

Saking menakutkannya, kucing mati adalah properti yang sering digunakan para sineas Jepang dalam film-film horor mereka. Mungkin kau akan lebih ketakutan lagi saat tahu, dalam film-film horor Jepang jarang ditemukan tulisan yang berarti: “Tak ada satu pun binatang yang disakiti dalam pembuatan film ini” di bagian kredit akhir, sebagaimana umumnya film yang melibatkan binatang.

Baca lebih lanjut

Pantai (Cerpen Roberto Bolaño)

sand-289225_960_720

Source: Pixabay

Aku berhenti memakai heroin dan pulang dan mulai mengikuti terapi metadon yang diselenggarakan oleh klinik rehabilitasi yang melayani rawat jalan dan tidak punya banyak hal lain untuk dikerjakan selain bangun tiap pagi dan nonton TV dan coba tidur malam, tapi aku tak bisa, ada yang bikin aku tak bisa merem dan bobo, dan itulah rutinitasku, sampai suatu hari aku tak tahan lagi dan aku membeli sepasang kolor renang hitam untuk diriku sendiri di sebuah toko di tengah kota dan aku pergi ke pantai, memakai kolor dan membawa handuk dan membawa sebuah majalah, dan aku membentangkan handukku tak jauh dari air dan aku berbaring dan menghabiskan sedikit waktu dengan mencoba memutuskan mau nyebur atau tidak, aku memikirkan banyak alasan buat nyebur juga banyak alasan untuk tidak (anak-anak yang bermain di tepian air, misalnya), sampai akhirnya itu sudah sangat telat dan aku pulang, dan esok paginya aku membeli tabir surya dan pergi ke pantai lagi, dan sekitar jam dua belas aku pergi ke klinik dan mendapatkan dosis metadonku sendiri dan menyapa beberapa wajah akrab, bukan teman, hanya wajah-wajah yang akrab dalam antrian metadon yang terperanjat melihatku pakai kolor, Baca lebih lanjut

Ketika Istriku Berbuah (Cerpen Han Kang)

shadow-2265667_960_720

Source: pixabay.com

1

SAAT itu penghujung Mei, aku pertama kali melihat memar-memar di tubuh istriku. Sebuah hari ketika bunga-bunga lilak di bedengan dekat kantor penjaga gedung menggugurkan kelopaknya serupa lidah yang lerai, sementara paving blok di pintu masuk pusat perawatan manula ditutupi kembang-kembang putih membusuk, terinjak sepatu orang lewat.

Matahari hampir tepat di atas kepala.

Cahaya matahari yang sewarna persik masak merebak di ruang tamu, menumpahkan partikel debu dan serbuk sari yang tak terhitung banyaknya.

Sinar matahari suam-suam kuku, yang enak tapi menyakitkan, itu mengalir menuju punggung rompi putihku saat aku dan istriku membolak-balikkan koran pagi edisi Minggu.

Pekan itu berlalu ditandai keletihan sama dengan yang aku rasakan pada bulan-bulan belakangan ini. Di akhir pekan aku membiarkan diriku tidur panjang, dan aku terbangun hanya beberapa menit yang lalu. Berbaring miring, aku beringsut menempatkan anggota tubuhku dalam posisi yang lebih nyaman, seraya memindai koran selambat mungkin.

“Maukah kau melihat ini? Aku gak tahu mengapa memar-memar ini belum juga hilang.” Baca lebih lanjut

Menanti Rasa Sakit

menanti-rasa-sakit-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Ilustrasi: Pata Areadi (Media Indonesia)

“Bapak balik dulu ke rumah. Ambil perlengkapan ibu, perlengkapan bayi, juga ember untuk menampung ari-ari.”

Aku sedang memikirkan Jakob Nufer serta perbuatan sintingnya beberapa abad silam saat bidan itu menemuiku di ruang tunggu dan menyampaikan arahan di atas. “Rahim ibu tipis, waktunya tidak akan lama lagi,” ia menambahkan.

Aku dan istriku sudah berulang kali mensimulasikan situasi jelang melahirkan, tetapi mengatasi kepanikan bukanlah keahlian yang bisa dipelajari seenteng tata cara menyajikan mi instan. Beberapa hal juga sulit tertebak, misalnya, istriku akan melahirkan di sebuah puskesmas, bukan rumah sakit.

Tidak ada masalah dengan Puskesmas Kampung Baru. Sama sekali tidak ada. Itu adalah sebuah bangunan bersih yang sedap dipandang. Satu ruang bersalin dengan dua ranjang, ruang nifas untuk dua pasien, ruang bidan dengan petugas jaga, dan ruang tunggu yang cukup luas buat para suami mengatasi kegugupan mereka, misalnya dengan mondar mandir, menari perut, senam kayang atau sekadar duduk kalem. Tak ada anak kucing berkeliaran, juga aroma lucu-lucu, selain disinfektan yang menyengat penciuman. Baca lebih lanjut