Pantai (Cerpen Roberto Bolaño)

sand-289225_960_720

Source: Pixabay

Aku berhenti memakai heroin dan pulang dan mulai mengikuti terapi metadon yang diselenggarakan oleh klinik rehabilitasi yang melayani rawat jalan dan tidak punya banyak hal lain untuk dikerjakan selain bangun tiap pagi dan nonton TV dan coba tidur malam, tapi aku tak bisa, ada yang bikin aku tak bisa merem dan bobo, dan itulah rutinitasku, sampai suatu hari aku tak tahan lagi dan aku membeli sepasang kolor renang hitam untuk diriku sendiri di sebuah toko di tengah kota dan aku pergi ke pantai, memakai kolor dan membawa handuk dan membawa sebuah majalah, dan aku membentangkan handukku tak jauh dari air dan aku berbaring dan menghabiskan sedikit waktu dengan mencoba memutuskan mau nyebur atau tidak, aku memikirkan banyak alasan buat nyebur juga banyak alasan untuk tidak (anak-anak yang bermain di tepian air, misalnya), sampai akhirnya itu sudah sangat telat dan aku pulang, dan esok paginya aku membeli tabir surya dan pergi ke pantai lagi, dan sekitar jam dua belas aku pergi ke klinik dan mendapatkan dosis metadonku sendiri dan menyapa beberapa wajah akrab, bukan teman, hanya wajah-wajah yang akrab dalam antrian metadon yang terperanjat melihatku pakai kolor, Baca lebih lanjut

Ketika Istriku Berbuah (Cerpen Han Kang)

shadow-2265667_960_720

Source: pixabay.com

1

SAAT itu penghujung Mei, aku pertama kali melihat memar-memar di tubuh istriku. Sebuah hari ketika bunga-bunga lilak di bedengan dekat kantor penjaga gedung menggugurkan kelopaknya serupa lidah yang lerai, sementara paving blok di pintu masuk pusat perawatan manula ditutupi kembang-kembang putih membusuk, terinjak sepatu orang lewat.

Matahari hampir tepat di atas kepala.

Cahaya matahari yang sewarna persik masak merebak di ruang tamu, menumpahkan partikel debu dan serbuk sari yang tak terhitung banyaknya.

Sinar matahari suam-suam kuku, yang enak tapi menyakitkan, itu mengalir menuju punggung rompi putihku saat aku dan istriku membolak-balikkan koran pagi edisi Minggu.

Pekan itu berlalu ditandai keletihan sama dengan yang aku rasakan pada bulan-bulan belakangan ini. Di akhir pekan aku membiarkan diriku tidur panjang, dan aku terbangun hanya beberapa menit yang lalu. Berbaring miring, aku beringsut menempatkan anggota tubuhku dalam posisi yang lebih nyaman, seraya memindai koran selambat mungkin.

“Maukah kau melihat ini? Aku gak tahu mengapa memar-memar ini belum juga hilang.” Baca lebih lanjut