Menguji Fenomena Gaib (Esai Woody Allen)

-font-b-Funny-b-font-6pcs-lot-Novel-PVC-font-b-Ghost-b-font-FingerTAK perlu disangsikan lagi kalau dunia gaib itu betul-betul ada. Masalahnya adalah, seberapa jauh dia dari pusat kota, dan sampai selarut apa dia buka? Kejadian-kejadian tak terjelaskan  terjadi terus menerus. Seseorang melihat hantu. Orang lain mendengar suara. Orang ketiga akan terbangun dan mendapati dirinya berjalan ke pacuan kuda Preakness. Berapa banyak dari kita yang tak sekali dua merasakan selapis telapak tangan sedingin es menempel di kuduk ketika sedang sendirian di rumah? (bukan saya, syukurlah, tapi ada yang pernah) Apa yang ada di belakang pengalaman-pengalaman tersebut? Atau di depan mereka, sebenarnya? Apakah benar bahwa sejumlah orang dapat meramalkan masa depan dengan jalan berbincang dengan hantu? Dan setelah mati apakah masih mungkin untuk mandi?

Untungnya, pertanyaan-pertanyaan mengenai fenomena gaib tersebut telah dijawab dalam sebuah buku yang akan segera diterbitkan, berjudul: Boo!, oleh Dr. Osgood Mulford Twelge, parapsikologis terkemuka sekaligus Guru Besar bidang ektoplasma di Universitas Columbia. Dr. Twelge telah menghimpun catatan sejarah luar biasa atas berbagai insiden supranatural yang melambari segenap ruang lingkup fenomena gaib, dari transfer pikiran hingga pengalaman aneh dua saudara yang berada di dua bagian bumi yang berbeda, yang ketika salah satunya mandi yang lainnya mendadak bersih tubuhnya. Apa yang dipaparkan berikut selain contoh-contoh kasus Dr. Twelge yang paling berhasil, juga adalah komentarnya sendiri.

Penampakan

PADA 16 Maret 1882, Tuan J.C Dubbs terbangun tengah malam dan melihat adiknya Amos, yang telah meninggal 14 tahun sebelumnya, duduk di atas kaki ranjangnya sambil mengocok-kocok burung sendiri. Dubbs bertanya adiknya sedang apa di situ, dan adiknya menjawab: jangan cemas, dia telah mati dan akan berada di kota itu cuma untuk seminggu. Dubbs bertanya kepada adiknya bagaimana rasanya berada di “dunia lain” dan adiknya menjawab tempat itu tak seperti Cleveland. Dia bilang kepulangannya adalah untuk mengantarkan pesan kepada Dubbs, bahwa kombinasi setelan biru tua dan kaos kaki Argyle adalah sebuah kesalahan besar.

Di saat yang sama, pelayan perempuan Dubbs masuk dan melihatnya berbicara kepada “kabut putih tak berbentuk” yang mengingatkan si pelayan pada Amos Dubbs, tapi dengan penampilan yang sedikit lebih baik. Akhirnya, hantu tersebut meminta Dubbs menyanyikan bersamanya sebuah aria dari drama Faust, yang kemudian, oleh dua bersaudara itu, dinyanyikan dengan penuh semangat. Saat fajar merekah, sang hantu berjalan menembus tembok, dan Dubbs, yang mencoba mengikuti, mematahkan hidungnya sendiri.

Kejadian tadi kelihatannya adalah kasus klasik mengenai fenomena penampakan hantu, dan bila Dubbs bisa dipercaya, hantu tersebut kembali lagi dan membuat Tuan Dubbs bangkit dari kursinya dan melayang di atas meja makan selama 12 menit sebelum jatuh kembali dalam secercah gravitasi. Menarik mencatat bahwa roh memiliki kecenderungan berbuat usil, yang menurut A.F Childe, seorang mistikus Britania, dihubungkan dengan gejala perasaan rendah diri bahwa mereka telah dilupakan setelah meninggal. “Penampakan” lebih sering diasosiasikan dengan individu-individu yang mengalami kematian tak wajar. Amos Dubbs, misalnya, meninggal dalam keadaan misterius tatkala seorang petani secara tidak sengaja menanamnya bersama beberapa pucuk lobak.

Kepergian Jiwa

TUAN Albert Sykes melaporkan pengalamannya sebagai berikut: “aku sedang kongkow sembari makan biskuit dengan beberapa kawan ketika aku merasa jiwaku meninggalkan tubuh dan pergi menelepon. Untuk suatu alasan, ia menelepon perusahaan serat kaca Moscowitz. Jiwaku kemudian kembali ke tubuhku dan duduk-duduk seperti biasa selama sekitar 20 menit, agar tiada yang menyadari sandiwara itu. Ketika tema perbincangan beralih ke soal-soal investasi reksadana, jiwaku pergi lagi dan berkelana di kota. Aku yakin ia mengunjungi Patung Liberty dan menonton pertunjukan di Radio City Music Hall. Setelah itu, ia pergi ke restoran steak Benny’s dan menghabiskan makanan seharga 68 dollar. Jiwaku kemudian memutuskan pulang ke tubuhku, tapi saat itu mustahil menemukan taksi. Akhirnya, ia berjalan kaki sepanjang Fifth Avenue dan menyatu kembali denganku tepat di waktu siaran berita tengah malam. Aku bisa bilang begitu karena di saat itulah aku merasa sensasi dingin yang tiba-tiba, dan sebuah suara berkata, ‘aku kembali. Kau mau aku ambilkan kismis itu?’

“Semenjak itu, fenomena tersebut kembali terjadi padaku beberapa kali. Suatu kali, jiwaku pergi ke Miami untuk menghabiskan akhir pekan, dan suatu ketika ia tertangkap mencoba meninggalkan Toko Macy tanpa membayar sebuah dasi. Di kali keempat, tubuhkulah yang sesungguhnya meninggalkan Jiwaku, meskipun dia cuma pergi ke tukang pijat dan segera kembali.”

Fenomena perginya jiwa sangat umum terjadi sekitar tahun 1910, ketika banyak “jiwa” dilaporkan berkeliaran tak jelas juntrungannya di sekitar India mencari Konsulat Amerika. Fenomena tersebut cukup mirip dengan transubtansi, sebuah proses tatkala seseorang secara tiba-tiba terdematerialisasi dan rematerialisasi ke suatu tempat lain di dunia. Sebenarnya bukan cara buruk untuk pelesiran, apalagi karena biasanya butuh setengah jam menunggu bagasi di bandara. Kasus transubtansi paling garib menimpa Sir Arthur Nurney, menghilang seiring bunyi letupan yang lumayan ketika ia sedang mandi, dan secara mendadak muncul kembali di tengah sebuah string section dari Vienna Symphony Orchestra. Ia menempati posisi violinist utama selama 27 tahun, tetapi ia hanya memainkan “Three Blind Mice,” dan menghilang secara tiba-tiba suatu hari selama pertunjukan Mozart Jumpiter Symphony, dan berpindah ke atas ranjang bersama Winston Churchill.

Nujum

TUAN Fenton Allentuck menggambarkan mimpi prekonigsinya sebagai berikut: “Saya tidur di tengah malam dan bermimpi bermain whist (sejenis permainan kartu –Penerj.) melawan sepiring kucai. Tiba-tiba mimpi berganti, dan saya melihat kakek saya nyaris terlindas truk di tengah jalan, tempat ia berdansa waltz dengan sebuah manekin. Saya hendak berteriak, tetapi saat saya membuka mulut, suara yang keluar hanyalah bunyi genta, dan kakek saya pun terlindas truk.

“Saya terbangun bersimbah keringat dan bergegas ke rumah kakek dan bertanya apakah ia punya rencana berdansa waltz dengan manekin? Tentu saja dia bilang tidak, tetapi dia pernah terpikir untuk menyamar jadi penggembala buat mengelabui musuh-musuhnya. Dengan perasaan lega saya berjalan pulang, tetapi kemudian saya diberitahu kalau lelaki tua itu terpeleset roti isi salad ayam sebelum jatuh dari atas Gedung Chrysler.”

Mimpi nubuat terlalu lazim diabaikan sebagai kebetulan murni. Seseorang bermimpi tentang kematian kerabatnya, dan itu terjadi. Tidak semua orang semujur itu. J. Martinez, dari Kennbunkport, Maine, bermimpi memenangkan lotere Irish Sweeptakes. Ketika terbangun, ranjangnya mengambang di lautan.

Kerasukan

SIR Hugh Swiggles, seorang skeptis, melaporkan sebuah pengalamannya dalam sebuah ritual pemanggilan roh:

Kami berada di rumah Madame Reynaud, seorang cenayang terkemuka, tempat kami semua diperintahkan untuk duduk mengelilingi meja seraya berpegangan tangan. Tuan Weeks tak henti-hentinya terkikik, dan Madame Reynaud menggampar kepalanya dengan sebuah kotak Ouija. Lampu dimatikan, dan Madame Reynaud berusaha menjalin kontak dengan suami Ny. Marple, yang telah mangkat pada sebuah opera akibat janggutnya dilalap api. Berikut ini adalah transkrip utuhnya:

NY. MARPLE: Apa yang Anda lihat?

CENAYANG: Saya melihat seorang lelaki dengan mata biru dan topi kincir.

NY. MARPLE: Itu suami saya!

CENAYANG: Namanya adalah…Robert. Bukan…Richard…

NY. MARPLE: Quincy.

CENAYANG: Quincy! Ya, itu dia!

NY. MARPLE: Apa lagi tentangnya?

CENAYANG: Ia botak tapi kerap menaruh beberapa helai daun di atas kepalanya agar tak ada yang tahu kalau dia botak.

NY. MARPLE: Ya! Tepat sekali!

CENAYANG: Untuk sejumlah alasan, ia membawa sebuah benda…sepotong paha babi.

NY. MARPLE: Hadiah ulangtahun perkawinanku untuknya! Bisakah Anda membuatnya bicara?

CENAYANG: Bicaralah, wahai arwah! Bicaralah!

QUINCY: Claire, ini Quincy.

NY. MARPLE: Oh, Quincy! Quincy!

QUINCY: Berapa lama kau taruh ayam di dalam oven kalau kau mau memanggangnya?

NY. MARPLE: Suara itu! Itu dia!

CENAYANG: Semuanya konsentrasi.

NY. MARPLE: Quincy, apakah mereka memperlakukanmu dengan baik?

QUINCY: Tidak buruk, kecuali butuh empat hari baru boleh membersihkan diri.

NY. MARPLE: Quincy, apakah kau rindu padaku?

QUINCY: Ya? Oh, emmm, tentu. Tentu saja, sayang. Aku harus pergi…

CENAYANG: Saya kehilangannya. Dia lenyap.

Saya rasa upacara pemanggilan arwah ini dapat lulus uji kebenaran yang ketat, dengan pengecualian kecil sebuah fonograf yang ditemukan di balik gaun Madame Reynaud.

Tak ada keraguan lagi peristiwa yang terekam dalam proses pemanggilan arwah itu asli. Siapa yang tak ingat peristiwa terkenal di kediaman Sybil Seretsky, tatkala ikan masnya bernyanyi “I Got Rhythm”—sebuah lagu yang disukai keponakannya yang baru saja berpulang? Namun percobaan kontak dengan orang mati mencapai tingkat kesulitan tertinggi sejak kebanyakan orang mati enggan buka suara, dan mereka yang mau tampaknya mesti mendesah-desah dulu sebelum sampai pada apa yang ingin diutarakan. Penulis sebenarnya pernah melihat meja yang melayang-layang, dan Dr. Joshua Fleagle dari Harvard, mengikuti suatu ritual pemanggilan arwah, yang bukan hanya memperlihatkan meja yang melayang, tetapi juga meja yang pamitan terus naik tangga untuk pergi tidur.

Kewaskitaan

SATU di antara sejumlah kasus paling mencengangkan dalam kewaskitaan adalah cenayang Yunani ternama, Achille Londos. Londos menyadari ia memiliki “Kekuatan aneh” pada umur sepuluh tahun, ketika ia tak bisa tidur dan, dengan berkonsentrasi, membuat gigi palsu ayahnya meloncat keluar dari mulut lelaki itu. Setelah suami dari seorang tetangganya menghilang selama tiga minggu, Londos menyuruh mereka mencari di dalam tungku, tempat lelaki tersebut akhirnya ditemukan sedang merajut. Londos bisa membayangkan wajah seseorang dan mencetak imaji itu dalam sebuah rol film Kodak biasa, meski ia tak bisa membuat siapa pun tersenyum.

Pada 1964, ia diminta membantu polisi menangkap Pencekik Dusseldorf, seorang penjahat keji yang selalu meninggalkan kue Alaska panggang di dada para korbannya. Hanya dengan mengendus sapu tangan, Londos mengarahkan polisi ke Siegfried Lenz, tukang suruh di sebuah sekolah khusus untuk orang Turki tuna rungu, yang kemudian mengaku dia adalah si pencekik dan memohon untuk mendapatkan sapu tangannya kembali.

Londos hanyalah satu dari banyak orang yang memiliki kekuatan batin. C.N. Jerome, cenayang dari Newport, Rhode Island, mengklaim bisa menerka kartu apa pun yang dipikirkan seekor tupai.

Ramalan

AKHIRNYA, kita sampai pada Aristonidis, pangeran abad 16 yang ramalannya terus menerus mempesonakan sekaligus membuat bingung bahkan mereka yang paling skeptis sekalipun. Contoh tipikalnya:

“Dua negara akan berperang, tapi hanya satu yang bakal menang.”

(Para ahli merasa ini mungkin mengacu pada perang Russia-Jepang pada 1904-1905, sebuah prestasi mencengangkan dalam dunia peramalan dengan mempertimbangkan fakta bahwa ramalan itu dibuat pada 1540)

“Seorang lelaki di Istambul akan memperbaiki topinya dan itu akan berantakan.”

(Pada 1860, Abu Hamid, seorang prajurit Ottoman, mengirim pecinya untuk dibersihkan, dan benda itu kembali dengan banyak noda.)

“Aku melihat seorang besar, yang suatu hari nanti menemukan bagi umat manusia sejenis pakaian untuk dikenakan di luar celananya sebagai pelindung saat memasak. Dan itu akan disebut sebuah ‘abron’ atau ‘aprone’.”

(Maksudnya tentu saja apron.)

“Seorang pemimpin akan lahir di Prancis. Ia akan sangat pendek dan akan mengakibatkan bencana besar.”

(Ini adalah sebuah rujukan bagi Napoleon atau tentang Marcel Lumet, seorang cebol di abad 18 yang menganjurkan sebuah rencana untuk mengutil saus béarnaise dari Voltaire)

“Di dunia baru, akan tempat bernama California, dan seorang pria bernama Joseph Cotten akan menjadi terkenal.”

(Tak butuh penjelasan)***

Disalin dan diterjemahkan dari artikel berjudul Examining Physic Phenomena, satu dari beberapa artikel yang termuat dalam buku The Complete Prose of Woody Allen: Without Feathers, Getting Even, Side Effects (Wings Books, 1991).

Iklan

One thought on “Menguji Fenomena Gaib (Esai Woody Allen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s