Di Bawah Bayang Sang Perancap Agung (Cerpen Alex Popov)

Masturbation-Ayurveda-and-Healing(Cerita: Alek Popov (Bulgaria). Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Christopher Buxton di situs http://www.wordswithoutborders.org. Versi bahasa Inggris, dilengkapi penjelasan cerita dan latar belakang penulis serta penerjemahnya, dapat disimak di sini)

LIMA menit kemudian mendadak Botev mendapatkan kembali penglihatannya—sama mendadaknya dengan ketika ia kehilangannya. Ia tampak ketakutan, seolah ia baru saja ditarik dari sebuah sumur dalam penuh kalajengking dan ular.

Tak seorang pun dalam skuadron yang secara khusus pernah ikut dalam suatu pelatihan medis. Pernah beberapa waktu yang lalu, Extra Nina mengikuti kursus kebidanan. Si Tuli Tanko (Vitan Churov dari sebuah kampung bernama Churov Spring) lulus dari kursus keperawatan dalam bidang pengobatan hewan dan karenanya dialah yang dipercayakan mengelola kotak P3K. Mereka menyebutnya “Tuli” karena ia tak bisa mendengar apa pun melalui telinga kanannya. Ia pernah sukses membersihkan luka Lozan dan membebatnya, tapi dalam situasi Botev ini ia cuma bisa mengangkat bahu. Pemeriksaan pada mata Botev tidak membuahkan hasil—baik Si Tuli Tanko maupun Extra Nina tidak menemukan sesuatu yang janggal atau pun mengkhawatirkan.

“Kamu makan sesuatu dari tanah? Minum sesuatu? Kamu habis jatuh jumpalitan?” mereka mencecarnya seperti dokter betulan. “Pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya? Di keluargamu ada nggak yang buta?”

“Ngg, ngg, nggaaakk!” lenguh Botev.

Hanya untuk memastikan, mereka mencari kunci misteri itu dalam tas punggung Botev. Selain aneka rongsokan lelaki dewasa dan sigaret dalam jumlah banyak, apa yang jatuh dari dasar benda itu adalah secarik lap berwarna putih motif totol-totol dengan pinggiran berenda. Sebetulnya, pernah berwarna putih, benda itu telah mendapatkan semburat kekuningan—Extra Nina mengangkat benda itu dengan dua jari dan memeriksanya dalam ketidakpahaman. Lalu ia mengedarkan pandangan kepada kelompok partisan di sekelilingnya. “Apa ini…kamerad?”

Para pria mengangkat bahu, terlihat tidak ingin menggubris.

“Celana dalamku!” jerit Gabriella.

“Celana dalammu?! Kenapa kau kasih dia?”

“Yang benar saja! Bisa-bisanya kau berpikir begitu?” ia meringis. “Suatu pagi benda itu raib di udara yang tipis. Aku pikir beberapa gagak telah mencurinya…”

“Gagak!” dengus Medved.

Gabriella mencampakkan celana dalam itu ke dalam api unggun dengan gelagat jijik campur menyesal. Tak jelas apa pastinya hubungan antara celana dalam itu dengan kebutaan tiba-tiba Botev, namun semua orang merasakan ada sesuatu—sesuatu yang kurang wajar.

“Dzi mana khau dapat vanyak zhekali rokok?” Komandan bertanya dengan suara berat.

Botev tertunduk.

“Ngaku! Ngaku!” suruh Tikhon gemas. “Kamu beli rokok dengan celana dalam curian kan!”

Apa?!”

“Dia menghargai dua batang rokok untuk lap setan itu, Tovarisht Kombrig! Sepuluh menit untuk dua batang rokok. Dasar kapitalis! Tuhan menghukumnya!”

“Tikhon!” hardik Nina.

“Maksudku… Alam,” bekas biarawan itu buru-buru meralat ucapannya. “Hukum alam menghukumnya.”

“Aku tak minta rokok. Mereka yang nawari kok,” rengek Botev, yang akhirnya telah sadar sepenuhnya dari pingsan. “Aku tidak mau kelihatan tak setiakawan. Aku malah memberikannya cuma-cuma. Bukan begitu? Ayo Maxim katakan pada mereka.”

“Aku, semacam itu…” anak muda itu tergagap, ragu.

“Teruz kenapha venda-venda ini phenting bhuatmu” tuntut komandan tegas.

“Tidak penting juga.”

“Kenapa? Supaya mereka bisa ngeloco, itulah kenapa, ha-ha-ha!” Tikhon menjelaskan. “Sudahlah, berhentilah bersikap lugu. Akui saja!”

“Memangnya kau tidak ngeloco?” cibir Svilen.

“Aku juga ngeloco sih,” Tikhon mengelus janggutnya, “Tapi tidak banyak. Lebih dari lima kali mereka ngeloco, Tovarisht Kombrig! Malam dan siang. Aku sudah tahu kalau sesuatu yang buruk akan terjadi…di kampung kami ada seorang buta. Kami memanggilnya Goblin. Bukan hanya karena ia buta, tapi juga karena ia dungu. Nenek menasehatiku jika aku ngeloco aku bisa saja berakhir seperti dia. Jika aku melihat tanganmu di bawah selimut. Tapi peduli amat…duh, berapa banyak ya pecut jelatang berduri yang telah dirasakan tangan ini?”

Ia menekuk empat jari gemuknya sembari menggeleng sedih.

“Aku juga, mereka menghajar tanganku dengan pecut jelatang,” ratap Kochan.

“Tidak cuma bikin buta,” imbuh Digger. “Di kampung kami ada yang namanya Manol, lima belas tahun terbaring lumpuh. Ibuku bilang: ngelocolah kalau pengen seperti Paman Manol, ngeloco saja, tapi jangan harap ibu mau mencebok pantat jorokmu setelah itu…”

“Nah, ada yang bilang kau bisa kena sawan lantaran itu,” kata Lozan. “suatu penyakit, epilepsi kalau kau pernah dengar…”

“Jika seorang anak ngeloco di rumah pada hari Santo Igantius,” berbisiklah Metodii tua, menggali dari kearifan lokal yang berabad-abad usianya, “tahun itu pohon-pohon tak akan berbuah. Benih anak lelaki akan tumpah ruah tapi tak ada yang menampungnya. Ayam-ayam betina akan berkurang telurnya, dan sapi-sapi tidak akan menghasilkan anak.”

Sebuah kesunyian yang menyiksa mendadak jatuh. Dalam kenangan setiap orang mengintailah pengasuh-pengasuh dengan muka berbulu, menggenggam pecut jelatang berduri di satu tangan dan cambuk ranting di tangan lain. Dan kini si bungkuk pemberang itu mengangkat dirinya keluar dari sudut terlupakan, melangkah keluar dengan berani dan siap berperang, sebagaimana cara yang diketahui orang-orang tua, memburu setiap setan dalam diri. Dengan wajah berminyak dan mata pucat mendelik, mereka semburkan peringatan keras dan dan nubuat berat mengenai kebinasaan di masa datang, kutukan-kutukan keluarga, dan kematian yang menyakitkan.

Celana dalam itu terbakar dalam jilatan api yang lemah.

“Sudah berapa lama kelakuan memalukan ini berlangsung? tanya Extra Nina.

Botev menuding para gadis: “Sejak kedua perempuan itu muncul…”

“Apa?” Gabriella dan Monika terbelalak kaget.

“Kau pembohong bangsat!” teriak Bushy. “Aku telah melihatmu ngeloco jauh sebelum itu! Di Triavo waktu kau sedang dalam tugas jaga…kau menularkannya kepada yang lain.”

“Hmm, kamu gak bermaksud bilang kamu kena kudis kan?” sela Gabriella. “Sebetulnya ngeloco ini apaan sih? Kami gak pernah bawa penyakit kudis ke unit ini, kami belum pernah sakit kudis. Kami pernah kena cacar, itu juga gatalnya gak enak sih, tapi udah lama.”

Mendadak, semua orang jadi tak tahan untuk tidak tertawa cekikikan. Bahkan sesuatu seperti seulas senyum tergaris melintang di paras Medved. Extra Nina tersipu dan gadis-gadis tampak kebingungan.

“Adakah yang bisa menjelaskan apa arti dan makna kata: ngeloco?!” mata Monika berkilat geram.

Extra Nina yang tersipu menyeret mereka ke satu sisi. Dia bukanlah ahli dalam topik tersebut, meskipun pernah kursus kebidanan, dan karena itulah penjelasannya terdengar sedikit ganjil. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya si kembar benar-benar paham tentang apa percekcokan barusan.

“Oh, itu!” seru Monika.

“Kami sudah baca banyak soal masturbasi,” ujar Gabriella, “dalam salah satu majalah ibuku ada sebuah artikel yang ditulis seseorang bernama Shtekel, seorang akademisi Austria. Ia bersikukuh kalau masturbasi adalah benar-benar aktivitas manusia normal.”

“Ya, benar-benar normal,” tegas saudarinya, berbalik menghadapi para lelaki, lalu berseru: “Tak ada yang harus membuat kalian malu, kamerad. Kalian tidak akan buta lantaran ini, kalian tidak akan tuli, kalian tidak akan kena sawan. Selama berabad-abad merancap dilaknat oleh kekuatan reaksioner sehingga terbenam dalam benak masyarakat luas. Di zaman ini, ilmu pengetahuan telah menolak habis-habisan dusta kotor ini dan bahkan menganggap dusta tersebut membawa kerusakan fatal pada jiwa manusia. Panjang umur masturbasi! Runtuhlah tirani paham lama!”

Tak seorang pun berani memekikkan kembali slogan baru itu, walau menarik betul kedengarannya. Para lelaki merendahkan pandangan seolah takut oleh semacam jebakan. Atau lelucon. Para nenek tidak menyerah begitu saja…Medved sadar bahwa pandangan mereka sekarang tertuju kepadanya. Hanya soal waktu dan dia telah menebak pertanyaan apa yang bakal muncul.

“Bagaimana mereka membahas isu masturbasi ini di Uni Soviet, Tovarisht Kombrig?” Screw bertanya malu-malu.

Medved menarik ujung tuniknya, batuk, lalu berkata: “Zoal mazdurbazi tidak dibahaz dalam agenda harian di Uni Zoviet. Orang Zoviet memiliki lebih banyak dugaz mendezak untuk dikerjakan. Mereka tidak membiarkan diri membuang enerzi untuk hal yang zia-zia. Aku zarankan kepada kalian untuk menghemat kekuatan. Kita tidak dapat bergantung pada zuplai reguler. Zetiap kalori berharga untuk tujuan perjuangan kita.”

Extra Nina menunggu kata-kata tersebut tertancap ke dalam benak para pejuang sejenak sebelum kemudian berseru: “Jika rakyat Uni Soviet bisa, kita juga bisa!”

“Bawel amat sih?” gumam Lenin.

“Kamerad!” Screw melompat, suaranya tergetar oleh emosi. “Sebagai Sekretaris Organisasi Pemuda, atas nama semua anggota kita yang bertanggungjawab, aku bersumpah dengan janji yang sungguh-sungguh bahwa kita akan menghentikan perilaku ini.”

“Kami bersumpah, kami bersumpah…” serentak sejumlah suara tak jelas.

Medved menggaruk kepalanya dengan sedikit sangsi. Botev mengendap-endap menuju api unggun sembari menatap ke bawah. Berjalan menyelisihi Botev, komandan menghentikannya dengan sorot tak berkedip yang membuat siapa pun gentar. “Tidak baik begitu, kamerad.”

“Saya tidak mencuri. Cuma minjam,” lelaki tidak beruntung itu tersedu. “Aku hendak mengembalikan itu ke mereka kalau sempat.”

“Hari ini zitu nyolong celana dalam, bezok mungkin roti zeorang kamerad. Agar zitu paham, kali berikutnya zitu biza zaja za tembak mati.”

*

PADA sore hari, suhu jatuh drastis. Para partisan merapatkan setiap baju terusan, sweater, rompi, dan celana wol lapis yang mereka punya, meringkuk di bawah selimut, dan berjubel dengan satu sama lain. Api unggun perlahan padam. Tinggal lampu parafin di tenda Komandan Jenderal yang masih menyala. Di depan penutup tenda, Stoicho tugur dengan bayonet tertancap di tanah. Medved telah memanggil semua pejabat skuadron. Dari waktu ke waktu denting tombol mesin ketik melayang ke udara. Jelas bagi semua orang sebuah pertanyaan maha penting sedang didiskusikan, dimulai dengan keputusan strategis yang mungkin akan segera mengubah takdir mereka.

Kedua gadis mengusap hidung mereka bersamaan untuk menghangatkan diri.

“Tahu nggak,” Gabriella berbisik, “apa pun yang yang Shtekel celotehkan, hal itu tidak terdengar setiakawan menurutku…”

Monika diam beberapa saat dan kemudian balik berbisik: “Aku curiga, jangan-jangan, justru kitalah yang telah memancing mereka dalam suatu cara untuk bersikap begitu.”

“Memancing gimana?”

“Mana kutahu… Mungkin kita tanpa sadar menginginkan mereka menyukai kita. Kita memperlihatkan suatu kegenitan perempuan atau kelemahan lain, yang membangkitkan gairah tertentu, yang tidak pantas bagi perjuangan?”

Dia behenti sejenak.

“Biarkan mereka melihat kita telanjang!”

“Tapi jangan sengaja!”

“Ya, jangan disengaja.”

Ada beberapa menit kesunyian setelah itu. Kehangatan lembut bergerak di antara hidung mereka.

“Kalau kita mati terhormat di tengah pertempuran, mereka akan mengerti bahwa kita bukan orang semacam itu…”erang Gabriella. “Meskipun terlambat.”

Dan dengan pikiran itu mereka mulai menangis serempak.

Tak sampai sepelemparan batu dari mereka, orang-orang kampung mendengkur, berguling satu sama lain seperti sebaris labu. Botev menggigil sendiri di bawah selembar selimut, dijauhi semua orang seolah ia sedang membawa bibit penyakit menular. Bushy memiliki selubungnya sendiri, dilapisi kulit domba, di mana ia membalut dirinya kuat-kuat serupa sebuah kepompong. Tikhon menempeli Digger dan Paman Metodii sebab ia demam. Demi kesetiakawanan mereka membiarkannya masuk, dan sebagai ungkapan terimakasih ia mengentuti mereka di bawah kain kanvas itu. Bagi Paman Metodii, yang telah berenang menuju realitas yang lain sementara waktu, aroma tersebut tak membuatnya terkesan sama sekali. Tapi Digger bahkan tak mampu berpikir untuk menutupi kepalanya. Telinganya membeku di dalam topi tipisnya. Selain soal ini, ia kesal mengetahui bahwa Lenin dan bukan dirinya yang diundang rapat. Telinganya menangkap sayup percakapan para pemuda yang berbaring di semak-semak.

“Jadi begitu saja?” Lozan bersuara. “Mereka membohongi kita seperti orang kampung dungu.”

 “Dan bukan cuma kamu,” Nail menambahkan dengan muram: “Bapakmu dan kakekmu… balik ke generasi kesembilan dan seterusnya, mereka juga sudah dikadali.”

“Kelihatannya ini bukan satu-satunya kebohongan yang telah mereka sebar!” dengus Dicho.

 “Kau harus selalu bertanya siapa yang paling diuntungkan dari pelayanan ini,” tuding Screw.

“Kelas penghisap!” bisik-bisik berhembus.

“Mereka punya istri-istri paling cantik, punya gundik, bukan cuma satu untuk seorang. Mereka mengambil semua jenis kenikmatan…” lanjut Screw geram. “Dan bagaimana dengan rakyat jelata? Dua tangan kosong. Dan itu bikin mereka jijik.”

“Ya, masturbasi adalah aktivitas proletar,” dukung Nail.

“Tapi persoalan celana dalam ini, ada sesuatu hal yang rasanya tidak mencerminkan kesetiakawanan…” sahut Lozan. “Kita telah melecehkan para kamerad perempuan kita. Apa yang akan mereka pikir tentang kita? Sekelompok mutan!”

“Mereka bilang kita bisa kok.”

“Yah, mungkin kita bisa tapi itu tidak setia kawan,” cetus Dicho. “Di Uni Soviet mereka tidak bersikap seperti ini. Mereka gadis-gadis pemberani dan layak mendapatkan rasa hormat. Kita harus cari cara untuk memperbaiki citra buruk ini.”

“Kita akan memperbaikinya,” ujar Svilen pelan.

“Bagaimana?”

“Saat kita mati.”

“Ayo doooongggg, locoin, terus tidur, ya kawan!” Digger tak tahan lagi.

“Ogah!” sebuah suara menyahut balik. “Kita sudah bersumpah.”***

*Tovarisht Kombrig: Salah satu tanda pangkat dalam dinas ketentaraan Uni Soviet.

**Kata “Rub Off” saya terjemahkan di sini sebagai “ngeloco” buat menghormati begawan filsafat tubuh cum prosais Gunawan Tri Atmodjo.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s